<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Angelina Veni</title>
	<atom:link href="http://angelinaveni.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://angelinaveni.com</link>
	<description>only the paranoid survives</description>
	<lastBuildDate>Fri, 20 Jan 2012 21:27:54 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1.1</generator>
		<item>
		<title>Marissa Mayer tentang Membuat Keputusan</title>
		<link>http://angelinaveni.com/2012/01/21/marissa-mayer-tentang-membuat-keputusan/</link>
		<comments>http://angelinaveni.com/2012/01/21/marissa-mayer-tentang-membuat-keputusan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Jan 2012 21:27:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>angelinavj</dc:creator>
				<category><![CDATA[Thoughts]]></category>
		<category><![CDATA[advice]]></category>
		<category><![CDATA[Marissa Mayer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://angelinaveni.com/?p=1303</guid>
		<description><![CDATA[<input type="hidden" id="wppa_nonce" name="wppa_nonce" value="799172f065" /><script type="text/javascript">wppa_bgcolor_img = "#eeeeee";wppa_popup_nolink = false;wppa_fadein_after_fadeout = false;wppa_animation_speed = 0;wppa_imgdir = "http://angelinaveni.com/wp-content/plugins/wp-photo-album-plus/images/";wppa_auto_colwidth = false;wppa_thumbnail_area_delta = 9;wppa_textframe_delta = 179;wppa_box_delta = 16;wppa_ss_timeout = 2500;wppa_preambule = 2;wppa_thumbnail_pitch = 104;wppa_filmstrip_margin = 2;wppa_filmstrip_area_delta = 60;wppa_film_show_glue = true;wppa_slideshow = "Slideshow";wppa_start = "Start";wppa_stop = "Stop";wppa_photo = "Photo";wppa_of = "of";wppa_prevphoto = "Prev.&nbsp;photo";wppa_nextphoto = "Next&nbsp;photo";wppa_username = "38.107.179.216";wppa_rating_once = true;</script><p></p> <p>Pidato Marissa Mayer ini wajib ditonton! Sangat insightful &#8211; salah satu saran paling berguna  dan praktikal yang pernah saya baca / nonton. 2 poin yang paling &#8216;kena&#8217; buat saya adalah : carilah dan berkumpullah dengan orang tercerdas yang bisa kamu temukan (06:03) dan lakukanlah sesuatu yang kamu nggak siap untuk lakukan (11:07). Berada di ruangan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><iframe width="695" height="521" src="http://www.youtube.com/embed/jaKoMCujc2k?fs=1&#038;feature=oembed" frameborder="0" allowfullscreen></iframe></p>
<p>Pidato Marissa Mayer ini wajib ditonton! Sangat insightful &#8211; salah satu saran paling berguna  dan praktikal yang pernah saya baca / nonton. 2 poin yang paling &#8216;kena&#8217; buat saya adalah : <strong>carilah dan berkumpullah dengan orang tercerdas yang bisa kamu temukan</strong> (06:03) dan <strong>lakukanlah sesuatu yang kamu nggak siap untuk lakukan </strong>(11:07). Berada di ruangan di mana kita adalah yang terpintar itu gampang, nyaman, dan sering kali menyuapi ego pribadi &#8211; tapi kita nggak akan mendapat nilai apapun dari ruangan itu. Kalau kita merasa nyaman dan stagnan, mungkin kita selama ini ada di ruangan yang salah. Kalau kita nggak terintimidasi atau takut oleh suatu keputusan, mungkin itu keputusan yang terlalu mudah.</p>
<p>Menurut saya 2 poin ini penting banget, dan sering kali terlupakan, terutama waktu membuat keputusan tentang karier. Pidato ini basically mendasari keputusan karier saya <a href="http://www.quora.com/What-sort-of-job-should-someone-with-three-semesters-of-college-get-in-order-to-become-a-better-programmer#ans916737">tahun lalu</a> dan terutama tahun ini, untuk bekerja dengan <a href="http://www.quora.com/about/team">tim terbaik dan tercerdas</a> yang bisa saya temukan. Selama masih sekolah memang bisa idealistis dan nggak terlalu berpikir hal-hal eksternal seperti <em>work-life balance, Greencard</em>, keluarga, dll&#8230; Tapi mudah-mudahan idealismenya nggak sepenuhnya hilang 2 tahun lagi waktu lulus &#8211; amin <img src='http://angelinaveni.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<a href="http://twitter.com/share" class="twitter-share-button" data-url="http://angelinaveni.com/2012/01/21/marissa-mayer-tentang-membuat-keputusan/" data-text="Marissa Mayer tentang Membuat Keputusan" data-count="horizontal">Tweet</a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://angelinaveni.com/2012/01/21/marissa-mayer-tentang-membuat-keputusan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>2012: Produktivitas!</title>
		<link>http://angelinaveni.com/2011/12/27/2012-produktivitas/</link>
		<comments>http://angelinaveni.com/2011/12/27/2012-produktivitas/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Dec 2011 07:45:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>angelinavj</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips]]></category>
		<category><![CDATA[Produktivitas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://angelinaveni.com/?p=1283</guid>
		<description><![CDATA[<p>Di pergantian tahun kali ini saya mau fokus di 1 hal konkrit saja: produktivitas! Tahun 2011 merasa sangat nggak produktif (dan ini kerasa banget ketika kerjaan menumpuk) &#8211; jadi, beberapa hari ini banyak mengevaluasi tools-tools dan cara kerja selama 2011, sekaligus juga research &#38; setup work environment yang oke buat tahun depan. Jadi di post [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di pergantian tahun kali ini saya mau fokus di 1 hal konkrit saja: produktivitas! Tahun 2011 merasa sangat nggak produktif (dan ini kerasa banget ketika kerjaan menumpuk) &#8211; jadi, beberapa hari ini banyak mengevaluasi tools-tools dan cara kerja selama 2011, sekaligus juga research &amp; setup work environment yang oke buat tahun depan. Jadi di post ini saya bakal share metode dan tools di work environment saya yang mudah-mudahan bisa membuat 2012 jauh lebih produktif dan mungkin berguna juga buat pembaca.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Metode Umum</span></strong></p>
<p><em>Getting Things Done (GTD)</em></p>
<ul>
<li>Intinya:
<ul>
<li>tulis semua to-do di kertas / aplikasi &#8211; keluarkan dari otak supaya nggak perlu keluar energi mengingat-ingat to-do lagi.</li>
<li>tulis to-do dengan <em>action words</em> (misalnya &#8220;Baca halaman 10 &#8211; 11&#8243; bukan &#8220;Bacaan CS 110&#8243;) &#8211; bila suatu pekerjaan perlu lebih dari 1 aksi, buat sebuah &#8216;project&#8217; yang terdiri dari beberapa aksi</li>
<li>langsung lakukan hal-hal yang bisa dilakukan dalam kurang dari 2 menit</li>
<li>organisasi to-do menjadi:
<ul>
<li>ACTION: yang harus dilakukan</li>
<li>WAITING FOR: yang menunggu hasil kerja orang lain</li>
<li>SOMEDAY / MAYBE</li>
</ul>
</li>
</ul>
</li>
<li>Baca lebih detail: <a href="http://www.amazon.com/Getting-Things-Done-Stress-Free-Productivity/dp/0142000280">Buku</a>, <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Getting_Things_Done">Wikipedia</a></li>
</ul>
<p><em>Pomodoro Techniques</em></p>
<ul>
<li>Intinya:
<ul>
<li>1 pomodoro session adalah 25 menit kerja produktif, i.e.: mengerjakan 1 proyek / pekerjaan tanpa gangguan / interupsi.</li>
<li>istirahat 5 menit setelah 1 pomodoro selesai</li>
<li>istirahat 15 &#8211; 20 menit setelah 4 pomodoro</li>
</ul>
</li>
<li>Baca lebih detail: <a href="http://www.pomodorotechnique.com/">Situs</a>, <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Pomodoro_Technique">Wikipedia</a></li>
</ul>
<p><em>Lainnya</em></p>
<ul>
<li>Mengurangi penggunaan mouse atau touchpad &#8211; menjaga tangan untuk fokus ke keyboard dengan interupsi minimum. <em>Keyboard shortcuts are my best friends!</em></li>
</ul>
<p style="padding-left: 60px;">Apa itu keyboard shortcuts? Contoh paling gampang: control C (Windows) atau command + C (Mac) buat mengcopy objects. Keyboard shortcuts ada di mana-mana&#8230; <em>Learn them and use them</em>.</p>
<ul>
<li>Sebisa mungkin menyimpan semua data / notes / todo di 1 lokasi</li>
<li>Menschedule supaya ada waktu kosong tanpa interupsi untuk bekerja. Sebisa mungkin menschedule kelas supaya berurut-urut.</li>
<li>Membuka email hanya 2 &#8211; 3 kali sehari dan memproses email dalam batch.</li>
<li>Membaca berita di iPhone sambil jalan ke kampus, bukannya membaca di laptop.</li>
<li>Mengautomatisasi sebanyak mungkin untuk mengurangi jumlah website yang perlu dicek dalam 1 hari.</li>
</ul>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Tools</span></strong></p>
<p style="padding-left: 60px;">Semuanya tools di laptop. General setting saya: Mac Lion, Chrome, 1 monitor 22&#8242;.</p>
<p><strong>Email</strong></p>
<p>Ini prioritas saya, mengingat workflow saya (seperti kebanyakan mahasiswa) didominasi oleh e-mail. Promosi event, panggilan interview, diskusi kelompok, student groups, informasi dan pertanyaan kelas, semua ada di email.</p>
<p><em><a href="http://www.postbox-inc.com" target="_blank">Postbox Express</a> (Free)</em></p>
<ul>
<li>Email client di Mac.</li>
<li>Mengawasi beberapa Gmail accounts saya sekaligus</li>
<li>Client yang jauh lebih cocok untuk Gmail daripada, misalnya, Apple Mail &#8211; kebanyakan fitur Gmail bisa dihandle dengan mudah dengan Postbox. Misalnya, label, important, atau integrasi ke Google Calendar.</li>
<li>Keyboard shortcuts &lt;3</li>
</ul>
<p><em><a href="http://www.activeinboxhq.com" target="_blank">ActiveInbox</a></em> (Free)</p>
<ul>
<li>Plugin di Chrome &amp; Firefox</li>
<li>Mengintegrasi <em>Getting Things Done </em>dengan Gmail inbox, menganggap email sebagai aksi / to-do.</li>
<li>Status label, seperti !Action, !Next, !Waiting on dan label untuk projects.</li>
<li>Horizontal tab di bagian atas layar Gmail yang mengingatkan to-do email yang belum selesai.</li>
</ul>
<p><em>GMail &#8211; umum</em></p>
<ul>
<li>forward semua incoming messages dari semua email ke 1 email.</li>
<li>memakai keyboard shortcuts dengan ekstensif &#8211; jarang sekali perlu pakai mouse selama di dalam gmail.</li>
<li>mengevaluasi dan membenahi filters dan labels. Filter dan labels yang tepat bikin kombinasi &#8220;gl ___ *a shift + i&#8221; (buka label ___, select all, mark all selected as read) sangat sakti!</li>
<li>integrasi dengan Google Calendar, karena kebanyakan undangan event masuk lewat e-mail, bisa langsung dimasukkan ke calendar.</li>
</ul>
<p><strong>Calendar: </strong>iCal in sync with Google Calendar</p>
<p><strong>Brainstorming &amp; Todo</strong></p>
<p><em><a href="https://workflowy.com/" target="_blank">Workflowy</a></em></p>
<ul>
<li>website favorit baru saya! bye Evernote&#8230;</li>
<li>brainstorming cepat dengan bullet points dan notes &#8211; semua di 1 documents, jadi nggak perlu mikir, buka dan tutup dokumen baru.</li>
<li>bisa tagging cepat dengan # atau @</li>
<li>bisa zoom-in / zoom-out bullet points dengan simpel.</li>
<li>sekarang pakai Workflowy untuk <em>semuanya</em> &#8211; ada #todo, #idea, #note, kelas, student organization, blog ideas&#8230; Semua informasi di-dump di workflowy dan gampang banget buat organize atau fokus di bagian tertentu.</li>
<li>tentunya, keyboard shortcuts yang banyak dan mudah diingat!</li>
<li>downsidenya cuma 1: nggak bisa dipakai offline.</li>
</ul>
<p><strong>Work Focus</strong></p>
<p><em><a href="http://www.focusboosterapp.com/">FocusBooster</a></em></p>
<ul>
<li>Timer simpel untuk Pomodoro Technique &#8211; menghitung berapa sesi Pomodoro yang dilakukan dalam sehari, dan menghitung mundur suatu sesi Pomodoro.</li>
</ul>
<p><em><a href="http://www.google.com/url?sa=t&amp;rct=j&amp;q=&amp;esrc=s&amp;source=web&amp;cd=1&amp;ved=0CB0QFjAA&amp;url=http%3A%2F%2Fwww.macupdate.com%2Finfo.php%2Fid%2F15844&amp;ei=0Gr5ToyRLInYrQerxu31Dw&amp;usg=AFQjCNGmBLmvASDFPiPkWMdD98tfTrcvvQ&amp;sig2=uu7w1K0f69aruID4XniIlg">SpiritedAway</a></em></p>
<ul>
<li>Menutup layar-layar yang tidak aktif (i.e. tidak dipakai / dibuka selama x menit) secara otomatis</li>
</ul>
<p><em><a href="http://www.google.com/url?sa=t&amp;rct=j&amp;q=&amp;esrc=s&amp;source=web&amp;cd=3&amp;ved=0CDIQFjAC&amp;url=http%3A%2F%2Fwww.macupdate.com%2Fapp%2Fmac%2F23972%2Fthink&amp;ei=Emv5TpecPMO3rAeeofkC&amp;usg=AFQjCNE1ji-8H69pVxRHw3M2NWS-eUI7JQ&amp;sig2=ouGw56VzSb74yRlM06Bctg">Think</a></em></p>
<ul>
<li>Pilih 1 aplikasi yang ingin fokus dipakai, lalu background layar dan aplikasi-aplikasi yang lain akan dihitamkan. <em>Bye, distractions&#8230;</em></li>
</ul>
<p><a href="http://anti-social.cc/" target="_blank"></a><em><a href="http://anti-social.cc/" target="_blank">Antisocial</a></em></p>
<ul>
<li>Memblok website-website yang ditentukan pengguna selama x menit / jam (maksimal 8 jam)</li>
<li>Contoh: blok Facebook, Twitter, etc selama 8 jam.</li>
</ul>
<p>Setup</p>
<ul>
<li>Rencana bakal bikin Workflow pake Automator supaya bisa langsung buka 4 aplikasi ini sekaligus waktu mau mulai 1 pomodoro. Jadi, otomatis block Facebook, Twitter dan menghitamkan aplikasi lain selain aplikasi yang mau dipakai ketika mau fokus / mulai 1 pomodoro.</li>
</ul>
<p><strong>Automatisasi</strong></p>
<p><a href="http://www.ifttt.com" target="_blank">ifttt</a></p>
<ul>
<li>cute little app yang bakal *melakukan sesuatu* kalau *sesuatu terjadi*</li>
<li>misalnya, *kirim SMS ke HP* kalau *besok hujan menurut ramalan cuaca* atau *email saya* kalau *ada yang ngetag foto di Facebook*</li>
</ul>
<p><a href="http://www.nutshellmail.com" target="_blank">NutshellMail</a></p>
<ul>
<li>mengirimkan ringkasan update harian di facebook dan twitter ke e-mail &#8211; mudah-mudahan bisa mengurangi frekuensi mengecek social-networking sites ini.</li>
</ul>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Keystrokes Reduction </strong>- sesedikit mungkin tuts yang diketik, semakin baik&#8230;</p>
<p><em><a href="http://www.alfredapp.com" target="_blank">Alfred</a></em></p>
<ul>
<li>mencari dan membuka folder dengan cepat di Mac (option + space, lalu bisa langsung ketik folder yang dicari)</li>
<li>menambah beberapa custom shortcut ke website-website favorit, seperti &#8220;search &#8230; at Quora&#8221; atau &#8220;wfy&#8221; untuk &#8220;open Workflowy&#8221;</li>
</ul>
<p><em><a href="http://kapeli.com/dashexpander/">DashExpander</a></em></p>
<ul>
<li>another favorite - perfect banget untuk menulis template emails atau kata-kata / snippet yang sering ditulis.</li>
<li>Misalnya, hanya dengan mengetik &#8220;hbd&#8221;, otomatis akan langsung diganti dengan &#8220;Happy birthday __name__! Wish you all the best <img src='http://angelinaveni.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> &#8221; dan DashExpander bakal bikin kamu bisa mengisi __name__ dengan cepat.</li>
<li>Contoh lain, mengetik &#8220;f_tks,fwd&#8221; langsung menjadi:<br />
&#8220;Thanks and looking forward to hearing from you,  Veni&#8221;</li>
</ul>
<p><strong>Analysis &amp; Evaluation</strong></p>
<p><em><a href="https://desktime.com">DeskTime</a> / <a href="http://rescuetime.com">RescueTime</a></em></p>
<ul>
<li>menganalisis aplikasi dan website yang digunakan dan menyusun report yang bisa dievaluasi.</li>
</ul>
<p><strong>Lainnya</strong></p>
<p><em><a href="http://www.dropbox.com" target="_blank">Dropbox</a> -</em> supaya file saya bisa diakses di komputer manapun</p>
<p><em><a href="http://github.com" target="_blank">Git</a> &#8211; </em>sekarang hampir semua file system saya under source control, supaya kalo salah delete atau salah revisi dokumen bisa langsung dengan gampang revert ke versi lama.</p>
<p><em><a href="http://mizage.com/#macdivvy" target="_blank">Divvy</a> &#8211; </em>dengan mudah menentukan ukuran dan lokasi aplikasi-aplikasi di layar.</p>
<p><em>vim</em></p>
<ul>
<li>untuk coding environment</li>
<li>tahun 2011 kemarin konversi total dari emacs ke vim, dan sangat puas dengan tambahan produktivitasnya</li>
<li>plugins vim mungkin bakal jadi separate blogpost nantinya&#8230;</li>
</ul>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>That&#8217;s it!</strong> Agak banyak sih &#8211; perlu keluarin waktu dan tenaga buat set up dan hafalin keyboard shortcuts di banyak aplikasi. Tapi kayak roommate saya summer kemaren bilang, setup work environment tuh investasi. Kalo oke, efeknya bagus banget long-term. Mudah-mudahan bisa konsisten dilakuin selama tahun 2012&#8230;</p>
<p>Let me know what you think and monggo share juga di comments cara-cara kalian menjaga produktivitas &#8211; much appreciated!</p>
<p>&nbsp;</p>
<a href="http://twitter.com/share" class="twitter-share-button" data-url="http://angelinaveni.com/2011/12/27/2012-produktivitas/" data-text="2012: Produktivitas!" data-count="horizontal">Tweet</a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://angelinaveni.com/2011/12/27/2012-produktivitas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The Stanford Summit 2012</title>
		<link>http://angelinaveni.com/2011/12/13/the-stanford-summit-2012/</link>
		<comments>http://angelinaveni.com/2011/12/13/the-stanford-summit-2012/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Dec 2011 01:02:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>angelinavj</dc:creator>
				<category><![CDATA[Events]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://angelinaveni.com/?p=1273</guid>
		<description><![CDATA[<p>Selama dua tahun terakhir saya benar-benar terkesan dan merasa dapet banyak hal dengan sekedar berada di sini dan berteman dengan orang-orang yang ada di sini&#8230; Karena itu saya sangat excited untuk promote acara yang memberi Silicon Valley experience itu untuk temen-temen yang kuliah di Indonesia atau negara Asia Pasifik lainnya. *drumroll*&#8230;</p> <p>&#160;</p> <p>&#8220;<a href="http://asessummit.stanford.edu">The Stanford [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Selama dua tahun terakhir saya benar-benar terkesan dan merasa dapet banyak hal dengan sekedar berada di sini dan berteman dengan orang-orang yang ada di sini&#8230; Karena itu saya sangat excited untuk promote acara yang memberi Silicon Valley experience itu untuk temen-temen yang kuliah di Indonesia atau negara Asia Pasifik lainnya. *drumroll*&#8230;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&#8220;<a href="http://asessummit.stanford.edu">The Stanford Summit</a>&#8221; adalah konferensi entrepreneurship 1 minggu yang diadakan di kampus Stanford, tanggal 8 &#8211; 14 April 2012. Registrasi acara ini terbuka untuk mahasiswa di daerah Asia Pasifik. Khusus untuk mahasiswa Indonesia, akan ada beberapa beasiswa penuh untuk partisipan yang terpilih.</p>
<p>Saya dan beberapa teman bakal ada di @america Jakarta tanggal <del>20 Desember 2011</del> 22 Desember 2011 jam 7 &#8211; 9 pm untuk bicara tentang event ini dan tentang pengalaman kami di Stanford. Please register here: http://eevent.com/663093999/the-stanford-summit-2012-information-session to let us know that you&#8217;re going!</p>
<a href="http://twitter.com/share" class="twitter-share-button" data-url="http://angelinaveni.com/2011/12/13/the-stanford-summit-2012/" data-text="The Stanford Summit 2012" data-count="horizontal">Tweet</a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://angelinaveni.com/2011/12/13/the-stanford-summit-2012/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>US Education Talks &amp; Mentoring Sessions</title>
		<link>http://angelinaveni.com/2011/11/05/us-education-talks-mentoring-sessions/</link>
		<comments>http://angelinaveni.com/2011/11/05/us-education-talks-mentoring-sessions/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Nov 2011 19:58:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>angelinavj</dc:creator>
				<category><![CDATA[Events]]></category>
		<category><![CDATA[@america]]></category>
		<category><![CDATA[Berkeley]]></category>
		<category><![CDATA[community college]]></category>
		<category><![CDATA[financial aid]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesian Club at Stanford]]></category>
		<category><![CDATA[MIT]]></category>
		<category><![CDATA[scholarship]]></category>
		<category><![CDATA[Stanford]]></category>
		<category><![CDATA[US college]]></category>
		<category><![CDATA[US university]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://angelinaveni.com/?p=1265</guid>
		<description><![CDATA[<p>Indonesian Club at Stanford is hosting Talks and Mentoring Sessions about US Education in Jakarta! The event will be held at @america Pacific Place Jakarta on January 7, 2012.  Our main focus in this event is to give you the most personalized advice possible for your future education &#8211; here&#8217;s your chance to talk to people who [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Indonesian Club at Stanford is hosting Talks and Mentoring Sessions about US Education in Jakarta! The event will be held at <strong>@america Pacific Place Jakarta</strong> on <strong>January 7, 2012</strong>.  Our main focus in this event is to give you the most personalized advice possible for your future education &#8211; here&#8217;s your chance to talk to people who have been in your shoes, have gone through similar things, and have answered similar questions that you have now. Admission process can be tricky and overwhelming, but we&#8217;re here to help!</p>
<p>This event&#8217;s speakers hail from <strong>Stanford, Harvard, Yale, University of California Berkeley, and MIT</strong>. Come hear about what it&#8217;s like to study in the US, how to apply either from community college or from high school, how to interview with US universities&#8217; representative, and what scholarship opportunities are available to you.</p>
<p>Mentors come from <strong>diverse range of universities</strong> (Stanford, UC Berkeley, UCLA, Boston University, Wesleyan, Carnegie Mellon, John Hopkins, and more), <strong>level of study</strong> (Bachelors, Masters, MBA, PhD, Post-Doctoral Fellow), <strong>majors</strong> (Computer Science, Engineering, Business Administration, Entrepreneurship, Government, Material Science and Engineering, Development Studies, etc), <strong>different pathway to the US</strong> (community college, international freshman, national curriculum, A Level), <strong>financial aid sources</strong> (Fulbright, research assistantship, university-based scholarship) and <strong>circumstances.</strong> You&#8217;ll get a 20 minute 1-on-1 time with the mentor we matched with you, and you can talk to him/her about anything &#8211; choosing your major or university, proofreading your essay, life in the US, getting a financial aid&#8230; <em>anything!</em></p>
<p>If you are 11th grade high school students / prospective Masters / PhD in Indonesia who are interested to continue your study in the US, be sure to check it out&#8230; To see more details, speaker and mentor lineup, and to register for mentoring sessions, visit <a href="http://www.stanford.edu/group/ICS/activities_indonesia/">our website</a>.</p>
<a href="http://twitter.com/share" class="twitter-share-button" data-url="http://angelinaveni.com/2011/11/05/us-education-talks-mentoring-sessions/" data-text="US Education Talks & Mentoring Sessions" data-count="horizontal">Tweet</a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://angelinaveni.com/2011/11/05/us-education-talks-mentoring-sessions/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>A Good Job</title>
		<link>http://angelinaveni.com/2011/09/27/a-good-job/</link>
		<comments>http://angelinaveni.com/2011/09/27/a-good-job/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Sep 2011 15:03:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>angelinavj</dc:creator>
				<category><![CDATA[Life]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://angelinaveni.com/?p=1260</guid>
		<description><![CDATA[<p>Dua minggu terakhir ini, selama liburan di Jakarta, pertemuan saya dengan kenalan-kenalan lama atau orang baru selalu diawali pembicaraan yang gampang diprediksi. Gimana magang di Facebook? (asik!) Ngapain aja di sana? (nggak bikin kopi pastinya) Ketemu Mark Zuckerberg? (Yup, beberapa kali) Gw pernah baca katanya di sana tuh gini gitu ya? Makanan gratis! Snack + [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dua minggu terakhir ini, selama liburan di Jakarta, pertemuan saya dengan kenalan-kenalan lama atau orang baru selalu diawali pembicaraan yang gampang diprediksi. <em>Gimana magang di Facebook? (asik!) Ngapain aja di sana? (nggak bikin kopi pastinya) Ketemu Mark Zuckerberg? <em> (Yup, beberapa kali) </em>Gw pernah baca katanya di sana tuh gini gitu ya? Makanan gratis! Snack + minum gratis! Main rockband/Wii/PS3 tiap hari! Nachos! Laundry gratis! Shuttle yang nganter2in setiap hari! Laptop! iPhone! Ketemu Oprah! Kapan kamu kerja kalo gitu? Salary oke, lagi&#8230;</em></p>
<p>Hal-hal seperti inilah yang sepertinya paling sering disebut oleh list-list &#8220;best places to work&#8221; atau yang paling sering diiriin orang  - hal-hal yang gampang buat dikuantifikasi, dilihat dan dibandingkan. Tapi setelah bener-bener ada di sana, saya jadi sadar kalau perks-perks ini sebenernya nggak terlalu berarti. Yup, emang asik. Tapi setelah 2-3 minggu, bakal cepet <em>take these for granted</em>.</p>
<p>Hal paling mengesankan tentang Facebook menurut saya, adalah bagaimana bekerja di sini bener-bener bukan <em>pekerjaan</em> 9-to-5 buat banyak orang. Terutama dengan banyaknya launch produk baru dalam beberapa minggu terakhir, employee di sini kerja dengan ritme kayak pre-launch startup &#8211; sampe malem, sampe pagi, bahkan di weekends. Keliatan jelas buat saya kalau mereka <em>really, really, <strong>really</strong> like what they&#8217;re doing (can&#8217;t emphasize this enough). </em>Ada perfeksionisme dan <em>passion</em> untuk meluncurkan produk-produk terbaik untuk 750 juta+ users Facebook, dan iterasi produk untuk mencapai bentuk akhir yang sampai di tangan user berlangsung berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, dengan <em>feedback</em> dari employee2 yang mencoba beta version dari produk yang akan launch. Luar biasa sih bisa melihat langsung perusahaan yang sudah relatif agak besar, bisa tetep menjaga kultur perusahaan dan membuat employees merasakan <em>sense of purpose</em> dari kerja mereka masing-masing.</p>
<p>Secara intelektual, saya jadi semakin kagum akan bidang <em>distributed system</em>. Saya baru lulus tingkat satu, jadi belum pernah ambil kelas <em>distributed system </em>sama sekali&#8230; dan saya merasa sangat sangat beruntung karena pengalaman pertama saya tentang <em>distributed system</em> ya di sistem berskala sebesar Facebook. Ngeliat langsung banyaknya orang dan komplikasi infrastruktur yang diperlukan buat menyokong facebook.com bener2 bikin kagum dan bikin semakin sadar akan kerennya Computer Science &#8211; serta betapa kecil dan belum ada apa-apanya saya sendiri.</p>
<p>Overall, I <em>met really, really smart people, learnt a lot, and had a good time! <img src='http://angelinaveni.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </em></p>
<a href="http://twitter.com/share" class="twitter-share-button" data-url="http://angelinaveni.com/2011/09/27/a-good-job/" data-text="A Good Job" data-count="horizontal">Tweet</a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://angelinaveni.com/2011/09/27/a-good-job/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Random thoughts</title>
		<link>http://angelinaveni.com/2011/07/17/random-thoughts/</link>
		<comments>http://angelinaveni.com/2011/07/17/random-thoughts/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Jul 2011 06:13:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>angelinavj</dc:creator>
				<category><![CDATA[Thoughts]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://angelinaveni.com/?p=1249</guid>
		<description><![CDATA[<p>Posting ini kumpulan pemikiran, kontemplasi dan pengalaman beberapa bulan terakhir ini yang nggak cukup panjang buat ditulis di post sendiri.. Maklumkan kalau dari paragraf ke paragraf nggak berhubungan satu sama lain.</p> <p>Beberapa bulan lalu, waktu ngobrol tentang cewek di Computer Science, ada temen (US-based) yang komentar kalau di Indonesia, belom dikenal atau punya pengertian beda [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Posting ini kumpulan pemikiran, kontemplasi dan pengalaman beberapa bulan terakhir ini yang nggak cukup panjang buat ditulis di post sendiri.. Maklumkan kalau dari paragraf ke paragraf nggak berhubungan satu sama lain.</p>
<p>Beberapa bulan lalu, waktu ngobrol tentang cewek di Computer Science, ada temen (US-based) yang komentar kalau di Indonesia, belom dikenal atau punya pengertian beda tentang konsep <em>sexism.</em> Menggarisbawahi/memperlakukan cewek CS secara spesial dianggap ofensif di US, tapi di Indonesia dianggap memuji. Saya tertarik denger komentar kalian tentang ini &#8211; setuju? nggak setuju? Dari pengalaman saya pribadi, orang Indonesia gampang untuk bikin komen sexist (yang kadang-kadang ofensif) tentang cewek geek / cewek di CS dengan alih bercandaan &#8211; hal yang gak pernah saya rasakan di sini.</p>
<p>Berhubungan dengan itu, <a href="http://www.youtube.com/watch?v=18uDutylDa4" target="_blank">video TED talk</a>-nya Sheryl Sandberg (COO Facebook) tentang women leadership ini highly recommended. Balance dan persamaan gender itu nggak cuma dalam persentase di dunia kerja, tapi juga di rumah tangga&#8230; Ketemu beliau secara langsung beberapa hari lalu adalah salah satu pengalaman paling mengesankan buat saya selama ini.</p>
<p>Quarter lalu saya menulis research paper tentang program dan konsep pencegahan HIV/AIDS di Indonesia, dan proses penulisan research paper itu bikin saya belajar banyak tentang Indonesia, terutama tentang gender dan kaum minoritas. Saya jadi merasa perlu untuk menambahkan post saya sebelumnya, <a href="http://angelinaveni.com/2011/03/14/merefleksikan-diversitas/">Merefleksikan Diversitas</a>, di mana saya menulis tentang Indonesia dan komunitas LGBT (Lesbian/Gay/Bisexual/Trans): antropolog2 ternyata menganggap Indonesia sebagai negara yang sangat toleran terhadap kaum LGBT secara historis&#8230; Suku Bugis, misalnya, mengakui lima gender. Dalam budaya Ponorogo, <em>warok</em> (pemimpin Reog Ponorogo) tidak diperbolehkan berhubungan seksual dengan perempuan, sehingga hubungan homoseksual terjadi di kalangan <em>warok</em>. Trivia lain yang menarik, walaupun pemerintah memberikan kondom gratis untuk program KB dan untuk pencegahan HIV/AIDS (ke kalangan PSK), ternyata warna kondomnya berbeda. Ini mencerminkan marginalisasi kaum <em>high-risk</em> HIV/AIDS dari general public di Indonesia.</p>
<p>Beberapa <em>comments</em> komentar tentang penggunaan bahasa di blog ini. Di satu sisi, menulis di Bahasa Indonesia bikin saya merasa lebih dekat sama Indonesia. Di sisi lain, ada banyak frase yang saya sering pakai di sini, buat saya, susah diekspresikan di Bahasa Indonesia. Selain itu, saya paling sebal baca blog / status / tulisan orang Indonesia yang berbahasa Inggris, tapi a) kacau grammar dan vocabnya, sampe nggak bisa dimengerti, atau b) sok pake struktur yang aneh-aneh tapi berantakan. Mayoritas tulisan-tulisan lainnya penuh bahasa SMS / gaul, yang jauh dari bahasa Indonesia &#8220;yang baik dan benar.&#8221; Dengan <em>rate</em> seperti ini, bahasa Indonesia bakal punah. Karena di kehidupan sehari-hari saya hampir nggak pernah ngomong atau baca bahasa Indonesia (yang baik dan benar), blog ini adalah usaha terdekat saya buat tetap in touch dengan bahasa ibu dan sebagai protes kecil pribadi saya ke penulis tulisan-tulisan yang saya sebal di atas tadi. At least kalau tulisan blog saya bisa dibaca di Google Translate, saya sudah cukup happy <img src='http://angelinaveni.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><em>More people need to stop being overly-optimistic and start to be realistic</em>&#8230;</p>
<p>Di <a href="http://angelinaveni.com/2010/08/25/summer-reading/">post lalu</a>, saya sempet cerita tentang salah satu buku favorit saya, <a href="http://www.amazon.com/Brave-New-World-Revisited-P-S/dp/0060898526/ref=sr_1_1?s=books&amp;ie=UTF8&amp;qid=1282742852&amp;sr=1-1">Brave New World Revisited</a> (Aldous Huxley), di mana beliau mengkritisi &#8216;<em>oversimplification&#8217; </em>sebagai bahaya di dunia modern. Realitanya sekarang? Twitter. <em>I love Twitter</em>, tapi semakin lama semakin muak melihat &#8216;konten&#8217; seseorang direduksi jadi <em>soundbites</em> yang cuma 140 huruf. Secara pribadi saya ga pernah ngerti popularitasnya pretty quotes di Twitter &#8211; sekeren apapun quote, kalimat ya kalimat, nggak ada manfaat <em>real</em>nya buat saya&#8230;  Belakangan ini jadi lebih sering buka <a href="http://www.quora.com" target="_blank">Quora</a>.</p>
<p><em>Google before you ask, please.</em></p>
<p>Glad to put these rants out. As always, comments are welcomed! Post berikutnya bakal cerita singkat tentang Facebook&#8230;</p>
<p>PS: terinspirasi nge-dump left-over thoughts ke 1 post ini setelah baca blogpost terakhir <a href="http://afutami.posterous.com/">Afutami</a>.</p>
<a href="http://twitter.com/share" class="twitter-share-button" data-url="http://angelinaveni.com/2011/07/17/random-thoughts/" data-text="Random thoughts" data-count="horizontal">Tweet</a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://angelinaveni.com/2011/07/17/random-thoughts/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Silicon Valley</title>
		<link>http://angelinaveni.com/2011/06/07/silicon-valley/</link>
		<comments>http://angelinaveni.com/2011/06/07/silicon-valley/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Jun 2011 22:51:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>angelinavj</dc:creator>
				<category><![CDATA[Life]]></category>
		<category><![CDATA[Thoughts]]></category>
		<category><![CDATA[Computer Science]]></category>
		<category><![CDATA[Silicon Valley]]></category>
		<category><![CDATA[Stanford]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://angelinaveni.com/?p=1212</guid>
		<description><![CDATA[<p>Bulan Desember 2009 lalu, waktu saya diterima di <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Stanford_University">Stanford</a>, admission officer yang baca aplikasi saya kirim email yang bilang, &#8220;Stanford will provide you with even more wonderful opportunities to explore your passion in computer science &#8211; and what better place than in Silicon Valley?&#8220; Setelah menyelesaikan 1 academic year di sini, Stanford dan <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Silicon_Valley">Silicon Valley</a> [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bulan Desember 2009 lalu, waktu saya diterima di <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Stanford_University">Stanford</a>, <em>admission officer </em>yang baca aplikasi saya kirim email yang bilang, &#8220;<em>Stanford will provide you with even more wonderful opportunities to explore your passion in computer science &#8211; and what better place than in Silicon Valley?</em>&#8220; Setelah menyelesaikan 1 academic year di sini, Stanford dan <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Silicon_Valley">Silicon Valley</a> <em>turn out to be what I expected</em>, <em>and more.</em> Kalau 6 bulan lalu saya <a href="http://angelinaveni.com/2010/12/12/merefleksikan-pendidikan/">menulis tentang Stanford</a>, sekarang saya pengen share tentang Silicon Valley, lingkungan yang nggak terpisahkan dari the <em>Stanford experience</em>.</p>
<p>Saya sering denger effort untuk <em>recreate</em> Silicon Valley di negara lain.  Waktu saya kembali ke Indonesia tahun lalu, saya datang ke sebuah pembukaan kompleks yang cita-citanya mau membangun Silicon Valley di Indonesia &#8211; tapi yang ada di sana cuma peresmian bangunan kosong. Silicon Valley lebih dari sekedar bangunan, perusahaan, universitas &#8211; ada antusiasme di sini, idealisme, kultur. Banyak hal-hal yang <em>you have to be here to feel .</em></p>
<p>Yup, so ini beberapa share sedikit experience dan observasi saya tentang SV selama setahun ini&#8230;.</p>
<p><em>You&#8217;re not here to seek answers &#8211; you&#8217;re here to learn to<strong> ask the right questions</strong></em><strong>.</strong> Itu salah satu kata-kata pertama yang saya denger di Stanford. Ketika kita puas dengan pertanyaan yang sekarang ada, kita berhenti berinovasi atau mem<strong>-</strong><em>push</em> boundaries. Ketika <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Peter_Thiel">Peter Thiel</a>, salah satu venture capitalist paling influential di Silicon Valley, bicara di Stanford tahun lalu, beliau bilang kalau web sudah nyaris terlalu pekat di US dan dia sekarang lebih excited untuk hal-hal baru yang bakal take over in the future: genetik/bioteknologi, solar cell, artificial intelligence. Saya honestly think that kemampuan komunitas di Silicon Valley untuk terus mendorong<em> boundaries</em> dan nggak settle dengan permasalahan yang masa kini lah yang bikin komunitas ini nggak cuma terus berkembang, tapi juga ada di depan dan nggak ngekor.</p>
<p>Entrepreneurs yang saya ketemu mostly sangat <strong>idealis</strong> &#8211; dalam arti: mereka mikir tentang masalah yang mau diselesaiin <em>first,</em> ciptain sesuatu yang solve itu, dan mikir tentang monetisasi belakangan. Ini mungkin karena saya masih di universitas, di mana orang-orangnya belum punya tanggungan keluarga &#8211; tapi mereka bikin bikin product, bikin startup karena itu sesuatu yang mereka senang lakukan dan karena startup itu solve a problem they want to be solved. Waktu ditanya gimana mereka menghasilkan pendapatan, cofounder <a href="http://www.color.com">Color</a> (startup yang bikin heboh SV karena <a href="http://blogs.wsj.com/venturecapital/2011/03/24/sequoia-to-color-labs-not-since-google-have-we-seen-this/">diinvest besar-besaran </a>sama <a href="http://www.sequoiacap.com">Sequoia</a>) bilang, &#8220;<em>Who cares?</em>&#8221; dan lanjut bilang kalau prioritas mereka first and foremost adalah untuk build a good product. Waktu saya baru masuk Stanford dan ngobrol sama senior-senior, saya impressed banget denger mantan Facebook interns bilang kalau mereka suka magang di Facebook karena, &#8220;<em>everyone genuinely wants to connect the world better. Everyone thinks that there are still a lot of work that can be done, and we are not nearly there yet.&#8221;</em> Terdengar klise &#8211; tapi ketika jawaban kayak gitu disebut oleh beberapa orang yang berbeda, saya jadi percaya kalau itu genuinely true. Waktu ikut Intern Day di Facebook, saya juga dapet impresi yang sama: orang-orang di sini memang work untuk suatu tujuan dan idealisme yang baik.</p>
<p><strong><em>startups are kings </em></strong>di sini. <em>geeks are cool.</em> orang-orang yang working on startups adalah <em>the &#8216;cool people&#8217; </em>dibandingkan mereka yang work di perusahaan besar. <em>those who fail are highly regarded</em>, terutama kalo masih di universitas. waktu tau kalau bakal magang di Facebook, banyak juga yang komentar in the line of &#8220;<em>great, but you should be interning at startup next year!</em>&#8221; I think ini suatu mindset shift dibandingkan mindset general people (dan saya juga) di Indonesia. <strong><em>they also just shut up, sit and code</em></strong>. dan bikin product. ada <em>hacker culture</em> yang <em>just do it</em> (ato <em>just start up, </em>in this case) &#8211; lebih baik keluarin product yang nggak sempurna daripada nggak <em>act</em> sama sekali&#8230; <em>motto Facebook </em>yang saya sering banget denger adlaah &#8220;<em>move fast and break things&#8221;</em> &#8211; waktu Intern Day, ada yang bilang kalo selama internship ini, kami *mungkin* bakal bikin Facebook crash. nggak sedikit juga full-time developers yang pernah bikin down Facebook.  <em>that happens and that&#8217;s ok</em>. <em>move fast and break things. </em>mereka juga gak peduli <em>what you wear or what time you go to the office</em> &#8211; <em>they care whether you get the job done</em>.</p>
<p>Yang mungkin paling signifikan, lingkungan SV super <strong><em>connected</em></strong> &#8211; nggak cuma antar perusahaan, tapi juga dalam relasi dengan universitas. Saya baru bener-bener <em>ngeh </em>tentang ini sejak saya mulai organize events untuk <a href="http://acm.stanford.edu">ACM</a>, organisasi Computer Science chapter Stanford.. Quarter lalu saya bantu organize acara <em>Tech Talk</em>, acara 2 minggu sekali di mana orang-orang industri atau Stanford students bicara di depan komunitas Computer Science di Stanford tentang kerjaan / research / <em>hack</em> baru mereka. Kalau sebelumnya saya cuma dateng ke <em>talk-talk</em> orang Silicon Valley, sekarang saya berhubungan langsung untuk ngundang mereka. Dan ternyata &#8211; wow, mereka bener2 gampang untuk di-reach. Color, walau udah kaya (dengan investment 41 juta dollar), ngirim eksekutifnya, cofounder sama chief officer. Mereka juga masih on-hand ngurus langsung info session mereka di Stanford, yang kami juga organize. Begitu berhubungan dengan 1 company / orang, mereka refer kami ke temen mereka di startup atau research facilities lain. <em>the network just keeps on going</em>. Dan tentu aja, <em>awesome people are all around</em> di sini. Salah satu highlight quarter ini adalah ketemu <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Marissa_Mayer">Marissa Mayer</a>, Google VP yang juga salah satu perempuan paling influential di Silicon Valley, orang yang saya <em>highly respect</em>. Di sisi lain, di dorm saya juga ada sesama <em>freshman</em> yang working on multiple startups. Di sekitar orang-orang ini, di atas langit selalu ada langit.</p>
<p><em>On a casual note</em>, menarik banget kalo inget bahwa orang-orang yang casual dinner bareng kamu ternyata punya andil dalam produksi barang-barang yang kamu pake. Dari lingkungan orang Indonesia aja, ada temen yang ngerjain iPhone sama MacBook. ada dari LinkedIn. ada yang ikut bikin algoritma News Feed di Facebook. saya ketemu kakak saya hampir tiap bulan, tapi saya baru tau kalau dia selama ini ngerjain <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Sandy_Bridge">SandyBridge</a> untuk Mac (dan jadi sering brag kalo dia bikin FaceTime di Mac possible). Di pembicaraan lunch (yang aneh), 3 orang temen berspekulasi kapan MacBook Pro terbaru bakal keluar &#8211; sementara di sebelah mereka ada 2 orang Apple yang under Non-Disclosure Agreement, yang cuma senyum-senyum rese. Very random, tapi saya selalu find very amusing &#8211; hal-hal kecil yang bikin saya inget (dan thankful!) kalau saya sekarang ada di Silicon Valley.</p>
<p><em>Last but not least</em>, tentang <em><strong>recruiting</strong> &#8211; </em>karena ini proses cari-kerja pertama saya, pengalaman ini sangat eye-opening- stressful, tapi akhirnya sangat rewarding.</p>
<p>Yang sangat eye-opening adalah bahwa <em>di sini kebutuhan itu dua arah</em>. Kata salah satu professor saya, referring ke <em>career fair</em> yang lagi berlangsung: &#8220;<em>They&#8217;re here to woo you.</em>&#8220; Bukan cuma applicants yang butuh cari kerja, tapi companies juga butuh cari good employees / interns. Terutama di Stanford di mana kebanyakan students punya banyak pilihan, juga untuk bikin <em>company</em> sendiri. Ini perubahan mindset yang gila banget. Di awal proses recruiting ini saya cukup pesimis bisa dapet kerjaan baru &#8211; <em>after all</em>, saya anak bawang, anak tingkat satu, yang pengalaman <em>web programming</em>nya relatif sedikit dibandingkan kebanyakan orang lain - saya merasa butuh kerjaan dan company nggak butuh saya. Tapi <em>the way companies treat applicants</em> bikin saya sadar kalau hubungan ini <em>memang </em>dua arah. <em>Interview</em> nggak cuma tempat company menguji applicant, tapi juga sebaliknya. Setelah proses <em>interview </em>selesai dan <em>offer</em> diextend, ada proses negosiasi salary. waktu applicants nolak <em>offer</em>nya, company kadang-kadang masih berusaha persuade lebih lanjut. Kaget aja bisa merasain first-hand hubungan dua-arah kayak gini begitu cepet.</p>
<p>Kebutuhan dua arah ini mengarah ke banyaknya <em>perks</em> (nilai tambah) di setiap company IT di sini. Facebook punya cafetaria (dengan chef) di mana makan pagi, siang, malam gratis. (<em>And the cafetaria&#8217;s good &#8211; really, really good</em>. kayak restoran top) Ada laundry dan dry-cleaning gratis. Di Amazon, ada banyak giftcard Amazon. Microsoft terkenal loyal sama intern-internnya, dengan banyak <em>freebie</em>. Apartemen intern Microsoft lengkap sama Xbox, Kinect dan produk-produk baru Microsoft. Google, tentunya, punya gym, cafetaria gratis, laundry, dan banyak lagi. Hampir semua punya game room. Perusahaan di sini berlomba-lomba jadi tempat kerja paling <em>hip. </em>Ini juga berlaku selama proses recruiting. Microsoft nerbangin semua applicant tahap akhir dari seluruh US ke Seattle (headquarter Microsoft terletak di Redmond, sekitar 40 menit dari Seattle) di mana mereka ditaroh di hotel bintang 4/5 selama 2 malem (kamar 2 ranjang besar, padahal cuma buat 1 orang!). Facebook nerbangin semua siswa yang dapet offer internship ke Palo Alto untuk Intern Day, di mana mereka explain tentang  <em>life at Facebook, engineering at Facebook, </em>dan tentu aja kenapa Facebook <em>is a great place to work</em>. Perusahaan IT kecil yang bergerak di <em>paid search management</em>, Marin Software di San Francisco, jemput applicants dari Stanford pake limousine untuk final interview. <em>Talent war</em> <em>is <strong>really</strong> here. </em>Saya pernah nyebut nama perusahaan saingan waktu nolak offer suatu perusahaan, dan nada suara si recruiter berubah <em>drastis</em>. Dan ini nggak cuma sekali atau cuma di satu perusahaan&#8230;</p>
<p>Tentang sumber informasi kerja: <em>Career fair</em> diadain at least sekali tiap quarter, bisa sampai &gt; 100 employer. Ada career fair khusus Computer Science, dan ada juga career fair khusus <em>startup</em>. <em>Information session</em> di mana individual company dateng dan ngomong, ada hampir setiap hari di <em>recruiting season</em> &#8211; ini cuma di bidang Computer Science aja. Banyak companies yang ngadain interviews onsite, di Stanford. Selain onsite interview ini, kebanyakan interview sama startup lewat telepon &#8211; biasanya ada 3/4 phone interview sebelum diundang ke office mereka untuk final interview. Recruiting process ini mostly berlalu <em>sangat, sangat cepat</em> &#8211; hari ini interview, 2 hari lagi udah dapet result interviewnya. Pengecualian adalah Google, yang super lama (2 bulan sebelum dapet result).</p>
<p>Recruiting dan pendidikan IT di sini sangat <strong><em>language-agnostic, </em></strong>atau nggak menyamakan &#8216;skill as programmer&#8217; dengan &#8216;penguasaan bahasa&#8217;. Kelas-kelas memang diajarkan di bahasa tertentu, tapi di kelas yang bukan pemula, kita diekspek untuk mempelajari bahasa itu sendiri. Fokus ditekankan di algoritma yang baru, cara penyelesaian yang baru. Sama halnya dengan <em>recruiting. </em>Rasanya dibandingkan <em>applicant </em>lain, pengalaman <em>web programming </em>saya termasuk minim. Tapi ternyata, selama interview2 dengan perusahaan2, interviewernya selalu membebaskan saya memilih bahasa apapun. Waktu saya tanya tentang masalah bahasa ini sama interviewer dari Facebook (karena denger2 Facebook banyak pake bahasa aneh2), dia bilang, &#8220;kalau kamu bisa pass interview kami, kita yakin kok kalau kamu bisa quickly catch up dengan whatever language we use.&#8221; Senior saya di ACM (yang <a href="http://mashable.com/2010/09/10/youtube-instant-job/">cukup beken</a> di lingkungan SV) waktu ditanya bahasa apa yang sebaiknya dipelajari duluan, bilang kalau buat dia, lebih penting untuk cari <em>project</em> yang pengen kita kerjain, terus <em>pick and learn on demand</em> bahasa yang perlu buat mewujudkan itu.</p>
<p>Material interviewnya itu sendiri bikin saya sangat, sangat bersyukur pernah lama di <a href="http://tokinet.org">Tim Olimpiade Komputer Indonesia</a> (TOKI). Kebiasaan coding kertas dan coding papan tulis sambil ngomong bener2 membantu. Apalagi, pertanyaan2 Amazon dan Facebook sangat TOKI-like (algoritma dan logika) yang nyaman buat saya. Microsoft sangat <em>design-oriented</em> (design class, atau design remote control atau semacamnya), Google agak random (kadang algoritma, kadang design, kadang general). Tingkat kesulitan soal-soal algoritma yang sampe sekarang pernah saya dapet di interviews kira-kira se-TopCoder Div 1 easy-medium. Interview algoritma tersulit datang dari <a href="http://www.imo.im">imo.im</a>, startup web instant messenger, yang anggotanya banyak dari kompetisi pemrograman. Tapi, secara general, interview dengan Google <em>is a very humbling experience,</em> ngingetin kalo <em>there&#8217;s just a lot to learn. </em>2 konversasi yang particularly menarik selama <em>interviews</em>: sama product manager Bing tentang <a href="http://techcrunch.com/2011/02/01/bing-google-fight/">feud Bing-Google </a>beberapa bulan lalu, dan sama engineer Facebook tentang <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/The_Social_Network">the Social Network.</a></p>
<p>Terakhir, kemaren sempet ditanya company apa yang punya image bagus di SV &#8211; <em>I&#8217;d say </em>Facebook dan Google masih tempat idaman utama, tapi <a href="http://www.palantirtech.com">Palantir Technologies</a> terkenal punya interview process paling ketat (dan banyak senior2 khatam yang masuk sana).</p>
<p>Yup, that&#8217;s it! Banyak yang mungkin remeh, tapi dalam beberapa tahun ke depan, ketika saya sudah <em>take </em>lingkungan ini <em>for granted, </em>saya pengen bisa <em>look back,</em> inget tentang antusiasme tahun pertama ini, dan inget untuk <em>be thankful</em>. Waktu <em>interview</em> udah jadi &#8216;rutin&#8217;, pengen <em>look back </em>dan inget ke-stres-an interview pertama dan hepinya waktu dapet offer pertama bulan Desember lalu. Mungkin observasi tahun pertama ini kelewat idealis, mari nanti tahun-tahun depan saya evaluasi lagi =p Well, <em>on a side note, </em>melihat pekatnya kompetisi web startup di sini, jadi sadar kalau ada bener2 banyak opportunities di Indo sih. Pengguna internet yang banyak dan early adopters in nature, tapi relatif sedikit web startup&#8230;</p>
<p>Anyway, saya akan kerja di Facebook selama 3 bulan summer ini. Mudah-mudahan bakal jadi <em>good experience!</em></p>
<a href="http://twitter.com/share" class="twitter-share-button" data-url="http://angelinaveni.com/2011/06/07/silicon-valley/" data-text="Silicon Valley" data-count="horizontal">Tweet</a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://angelinaveni.com/2011/06/07/silicon-valley/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>56</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kartini, bukan Ibu Kartini&#8230;</title>
		<link>http://angelinaveni.com/2011/04/21/hari-kartini/</link>
		<comments>http://angelinaveni.com/2011/04/21/hari-kartini/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Apr 2011 22:10:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>angelinavj</dc:creator>
				<category><![CDATA[Reading]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://angelinaveni.com/?p=1183</guid>
		<description><![CDATA[<p>Sejak sekolah dulu, saya nggak pernah ngerti kenapa hari Kartini selalu disertai lomba / parade baju daerah &#8211; apa hubungannya dengan emansipasi wanita? Kenapa lagu wajib Hari Kartini selalu menyebut beliau &#8220;Ibu kita Kartini&#8221;, padahal beliau awalnya menentang pernikahan?</p> <p>Menurut buku &#8220;Gender, Islam and Democracy in Indonesia&#8221; (Kathryn Robinson), ada hubungan erat antara dinamika politik [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sejak sekolah dulu, saya nggak pernah <em>ngerti</em> kenapa hari Kartini selalu disertai lomba / parade baju daerah &#8211; apa hubungannya dengan emansipasi wanita? Kenapa lagu wajib Hari Kartini selalu menyebut beliau &#8220;Ibu kita Kartini&#8221;, padahal beliau awalnya menentang pernikahan?</p>
<p>Menurut buku &#8220;Gender, Islam and Democracy in Indonesia&#8221; (Kathryn Robinson), ada hubungan erat antara dinamika politik Orde Baru dengan perubahan peran Kartini sepanjang sejarah.  Di masa Orde Baru, Suharto berusaha menyatukan / menasionalisasikan diversitas bangsa dengan konsep &#8216;keluarga&#8217; (<em>azas kekeluargaan</em>) dan peran perempuan diekspresikan sebagai <em>kodrat wanita</em>.</p>
<blockquote><p>&#8220;The close association of women with <strong>wifehood</strong> and <strong>mother-hood</strong> in official rituals and rhetoric of the New Order express the effort to subsume the diversity of gender constructions around the archipelago under one national definition of femininity, discursively rendered through organizations such as PKK and SW, and the family planning programme.&#8221;</p></blockquote>
<p>Lalu, &#8216;pembentukan&#8217; sosok Kartini sebagai bagian propaganda ini :</p>
<blockquote><p>&#8220;The reworking of Kartini&#8217;s life story in the official Indonesian accounts published during the New Order had the effect of diluting her feminist credentials (Tiwon 1996). The young woman who declared to her correspondents in the Netherlands that she <strong>never wanted to marry</strong> is presented in the Indonesian biography and translation of her letters as arguing that she did not want an  <em>arranged marriage</em>. Her transformation into a model for the contemporary Indonesian woman is completed by her designation as <strong>Ibu Kartini</strong> (<em>ibu </em>literally &#8216;mother&#8217;) According to Ailsa Zain&#8217;uddin (1986;271) Sukarno is said to have changed the original words of the song celebrating her from &#8216;Raden Ajeng Kartini&#8217;, her title prior to marriage, because it emphasized her status as an unmarried woman.</p></blockquote>
<p>Ironisnya, peringatan hari Kartini menjadi &#8220;empty ritual celebration of feminine beauty&#8221; dan bukan nilai edukasi yang diperjuangkan Kartini&#8230;</p>
<p>&nbsp;</p>
<a href="http://twitter.com/share" class="twitter-share-button" data-url="http://angelinaveni.com/2011/04/21/hari-kartini/" data-text="Kartini, bukan Ibu Kartini..." data-count="horizontal">Tweet</a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://angelinaveni.com/2011/04/21/hari-kartini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Merefleksikan Diversitas</title>
		<link>http://angelinaveni.com/2011/03/14/merefleksikan-diversitas/</link>
		<comments>http://angelinaveni.com/2011/03/14/merefleksikan-diversitas/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Mar 2011 03:43:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>angelinavj</dc:creator>
				<category><![CDATA[Thoughts]]></category>
		<category><![CDATA[diversity]]></category>
		<category><![CDATA[Stanford]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://angelinaveni.com/?p=1127</guid>
		<description><![CDATA[<p>Beberapa minggu lalu, saya mengikuti &#8220;Crossing the Line&#8221;, acara wajib untuk Stanford freshmen yang menjadi salah satu momen paling berkesan di quarter kedua ini buat saya, dan membuat saya berpikir lebih dalam tentang diversitas, juga eksistensinya di Indonesia.</p> <p>Singkatnya, sekitar 80an freshmen di asrama berdiri dalam lingkaran dan seorang pemandu (dari Residential Education) bakal bilang sebuah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa minggu lalu, saya mengikuti &#8220;<em>Crossing the Line&#8221;</em>, acara wajib untuk Stanford freshmen yang menjadi salah satu momen paling berkesan di quarter kedua ini buat saya, dan membuat saya berpikir lebih dalam tentang diversitas, juga eksistensinya di Indonesia.</p>
<p>Singkatnya, sekitar 80an <em>freshmen</em> di asrama berdiri dalam lingkaran dan seorang pemandu (dari Residential Education) bakal bilang sebuah kalimat. Lalu semua orang yang merasa kalimat itu menggambarkan mereka bakal maju ke tengah lingkaran dan menghadap ke orang-orang lain. Proses ini diulang terus-menerus selama hampir 2 jam, tanpa seorangpun, selain si pemandu, berbicara. Contoh kalimat-kalimatnya? (&#8220;<em>Cross the line, if&#8230;&#8221;</em>)</p>
<ul>
<li>kamu berasal dari lingkungan yang homogen.</li>
<li>kamu berasal dari keluarga tingkat atas / menengah / miskin.</li>
<li>kamu nggak bisa bersekolah di Stanford tanpa <em>financial aid</em> / beasiswa</li>
<li>kamu merasa <em>social status </em>adalah topik yang sulit dibicarakan di Stanford.</li>
<li>kamu adalah orang pertama dalam keluarga yang bersekolah</li>
<li>kamu merasa minoritas secara rasial</li>
<li>kamu mengenal orang yang pernah menjadi korban diskriminasi rasial</li>
<li>kamu pernah menjadi korban diskriminasi rasial</li>
<li>kamu merasa masalah ras adalah topik yang sulit dibicarakan di Stanford.</li>
<li>kamu merasa atraktif.</li>
<li>kamu merasa tidak atraktif.</li>
<li>kamu merasa perlu mengurangi berat badan.</li>
<li>kamu berharap terlahir dengan jenis kelamin lain</li>
<li>kamu pernah menjadi subjek diskriminasi gender</li>
<li>kamu pernah mempertanyakan orientasi seksualmu</li>
<li>kamu pernah menganggap sesama jenis atraktif</li>
<li>kamu mengenal orang yang homoseksual, biseksual, transgender atau queer.</li>
<li>kamu gay, lesbian, biseksual, transgender, atau queer.</li>
<li>kamu pernah berkata, &#8220;<em>you&#8217;re so gay</em>&#8221; sebagai candaan / cemoohan.</li>
<li>kamu minum alkohol.</li>
<li>kamu tidak minum alkohol.</li>
<li>kamu berhubungan seks secara aktif.</li>
<li>kamu melakukan seks dengan konstrasepsi.</li>
<li>kamu memiliki prinsip <em>sexual abstinence.</em></li>
<li>kamu menganggap seks pra-nikah tidak <em>agreeable.</em></li>
<li>kamu menganggap seks pra-nikah bukan masalah.</li>
<li>kamu percaya Tuhan.</li>
<li>kamu tidak percaya Tuhan.</li>
<li>kamu memeluk agama.</li>
<li>kamu mempertanyakan kepercayaanmu sejak datang ke Stanford.</li>
<li>kamu merasa tidak nyaman memeluk agamamu di Stanford.</li>
</ul>
<p>dan masih banyak lagi, yang nggak hanya berhubungan dengan diversitas (kamu pernah tertawa dalam seminggu terakhir?). Selalu ada orang yang maju di hampir semua kalimat, dan semua orang diam, tidak berkomentar. Buat banyak orang, termasuk saya, ini membuat kita bertanya banyak pertanyaan yang sebelomnya nggak pernah kita tanyakan ke diri sendiri. Buat banyak orang, ini berarti mengakui hal-hal yang biasanya nggak pernah muncul ke permukaan secara publik. Yang buat seseorang remeh bisa jadi substansial untuk orang lain.</p>
<p>Selama hampir dua jam ini saya menyaksikan wujud diversitas yang paling gamblang &#8211; nggak terbatas pada ras, suku, agama dan status sosial, tapi juga dalam cara pikir dan prinsip. Semuanya di dalam orang-orang yang hidup di sekeliling saya lima bulan terakhir ini. Sering kali saya kaget &#8211; melihat orang-orang yang terlihat <em>perfect</em> ternyata punya <em>body image issues</em>, melihat orang yang saya kira konservatif ternyata melakukan seks pra-nikah, kaget melihat orang-orang yang, tanpa saya sangka sama sekali, mempertanyakan orientasi seksual mereka.</p>
<p>Saya nggak bisa berhenti berpikir &#8211; kalau acara serupa diadakan di komunitas Indonesia, apakah ada pertanyaan-pertanyaan yang bakal dihilangkan? Lebih tepatnya &#8211; apakah masyarakat, sekolah, universitas, pemerintah, mengakui secara gamblang kalau cara pandang yang berbeda itu eksis dan<em> ada &#8211; </em>bukan cuma di literatur atau di dunia barat, tapi juga di sekitar kita?</p>
<p><strong><em>Indonesia dan Homoseksualitas</em></strong></p>
<p>Pertanyaan terakhir muncul di pikiran saya sejak membantu sebuah proyek School of Education di Stanford. Dalam proyek itu, saya diberikan beberapa buku pelajaran SMP keluaran Indonesia dan berbahasa Indonesia, juga sebuah <em>list</em> tentang isi buku itu yang perlu saya <em>tick</em>. Misalnya, apakah buku itu memuat sedikitnya 1 paragraf tentang ekonomi. Dalam 12 buku yang saya telaah, ada 1 kotak yang nggak pernah tercentang sama sekali. Apa itu? <strong><em>homoseksual</em></strong>. Dalam 12 buku IPS / PKn kelas 6 &#8211; 9 yang saya baca, banyak dari antaranya keluaran Departemen Pendidikan, nggak ada satupun kata homoseksual di dalamnya. Beberapa bahkan punya 1 atau lebih bab tentang toleransi dan diversitas. [ saya sadar kalau 12 buku, tentunya, nggak banyak, dan nggak bisa menjadi dasar konklusi statistik yang valid ], tapi ini mendorong saya untuk berpikir &#8211; apakah pendidikan Indonesia pernah mengakui kalau ateisme itu ada? bahwa kontrasepsi adalah pilihan yang ada? Dan hal-hal ini bukan cuma konsep &#8216;kosong&#8217;, tapi juga dipercayai <em>orang</em>? Saya sadar kalau Indonesia berdiri dengan landasan prinsip yang berbeda dengan Amerika Serikat, dan kita memiliki nilai kultural yang berbeda dengan negara Barat, tapi mengakui bahwa sesuatu ada tidak sama dengan <em>persetujuan </em>bahwa hal itu diperbolehkan. Ketika perbedaan bahkan tidak diakui keberadaannya, bagaimana kita bisa &#8216;bersatu dalam perbedaan&#8217; (Bhinneka Tunggal Ika)?</p>
<p>Tinggal di sini selama beberapa bulan dengan segala diversitasnya memberi konteks pada hal-hal yang sering dijadikan bahan bercandaan sehari-hari. Dalam salah satu acara orientasi, dialog antar semua orang di asrama saya, ada 1 orang yang tunjuk jari dan bilang, bahwa dia nggak mau mendengar bercandaan tentang pemerkosaan, karena salah satu teman baiknya korban pemerkosaan dan bahwa itu bukan sesuatu buat dijadiin bercandaan. Saya mengenal beberapa homoseksual yang saya <em>deeply respect,</em> dan bercandaan &#8220;<em>homo lu!</em>&#8221; jadi lebih ofensif daripada dulu - karena dia refer ke orang-orang yang saya kenal secara personal sebagai sesuatu yang <em>salah</em>. Selama ini beberapa kalangan minoritas menjadi sesuatu yang sekedar <em>out there</em> dan enggak bener-bener di<em>addressed</em> di pemerintah/sekolah/komunitas, membuat kesan kalau mereka <em>outlier</em> yang nggak seharusnya ada di komunitas &#8211; kesan kalau mereka cuma ada di tempat yang <em>asing</em> buat kita &#8211; secara nggak langsung bikin kita merasa <em>harmless</em> untuk bikin joke tentang itu.</p>
<p><strong><em>Gender di Computer Science</em></strong></p>
<p>Saya merasa isu gender di computer science (atau di banyak bidang lainnya, tapi bidang ini particularly applies buat saya) kurang tersentuh selama saya di Indonesia dulu, setidaknya sepengetahuan saya yang masih SMA waktu itu. Waktu saya mulai belajar <em>programming</em>, saya ingat ada orang yang bilang kalau itu <em>bukan bidang saya</em>. Bahkan ketika saya sudah berstatus medalis nasional, ada yang bilang kalau saya programmer yang oke, <em>untuk ukuran cewek</em> (mungkin maksudnya pujian ya, tapi terasa ofensif).. Dan saya merasa nggak punya komunitas atau orang untuk di- <em>look up to.</em> Tapi isu ini cukup dilematis &#8211; di satu sisi, perlu ada usaha untuk mempromosikan computer science di kalangan perempuan (yang otherwise mungkin nggak terpikir tentang mendalami ini), tapi di sisi lain, memberi <em>leeway</em> atau banyak kemudahan juga membuat mereka merasa nggak disejajarkan dengan pria.</p>
<p>Di sini, ada banyak <em>conscious effort</em> untuk promote perempuan di <em>underrepresented area</em> seperti Computer Science, lewat komunitas-komunitas: di Stanford, ada <a href="http://swe.stanford.edu/cgi-bin/index.php">Society of Women Engineers</a> dan Women in Computer Science, hampir di semua company tech besar ada komunitas perempuannya, ada scholarship-scholarship khusus perempuan, seperti <a href="http://www.google.com/anitaborg/">Google Anita Borg Memorial Scholarship</a>, dan ada komunitas seperti <a href="http://www.women2.org/">Women 2.0</a>. atau <a href="http://www.girlsintech.net/">Girls in Tech</a>. Ada <a href="http://doi.acm.org/10.1145/543812.543837">penelitian-penelitian</a> yang meriset tentang edukasi computer science untuk perempuan, dan banyak yang telah diinkorporasi ke kurikulum kelas introduksi pemrograman di Stanford.</p>
<p>Ada banyak universitas dan perusahaan yang menggunkaan sistem <em>affirmative action</em>, di mana mereka memperhitungkan suku, ras, agama, gender, status sosial dalam penerimaan. Di sisi lain, ketika saya menjalani  proses wawancara untuk magang di beberapa perusahaan teknologi belakangan ini, salah satu hal paling menarik selama proses ini adalah bagaimana <em>competency-based</em> nya proses ini. Saya sering lihat orang wawancara cuma pake kaos dan jeans, cewek-cewek tanpa <em>makeup </em>atau <em>high-heels&#8230; </em>Prosesnya sangat <em>straight-forward</em>: masuk, duduk, say hi dalam kurang dari semenit, kasih pertanyaan programming, kita nulis di papan tulis, dan <em>that&#8217;s it.</em> Saya sempet <em>onsite-interview</em> dengan early startup company yang cuma punya sekitar 15 employees &#8211; tanpa <em>female-engineers</em>.  Entah kenapa proses wawancara perusahaan tech ini terasa lebih nyaman buat saya dibandingkan <em>affirmative action</em> &#8211; saya merasa dihargai sebagai bukan sebagai <em>female programmer</em> tapi sebagai programmer &#8211; dihargai untuk kompetensi saya dan bukan hal-hal eksternal lainnya. Sangat <em>fitting </em>buat bidang ini, karena, well, komputer itu objektif. <em>In the end</em>, gender atau faktor eksternal lainnya nggak boleh dicampur adukkan dengan kompetensi. Dukungan ke minoritas itu harus dari hal-hal yang fundamental, yang sifatnya &#8216;pembekalan&#8217; dan learning, bukan dari hal-hal yang sifatnya <em>reward</em>&#8230;</p>
<p>Anyway, saya senang sekarang sudah ada <a href="http://twitter.com/#!/GirlsintechID">Girls in Tech Indonesia</a>, yang sekarang sepertinya bergerak di kalangan wanita eksekutif. Saya harap bisa bergerak ke ranah (yang menurut saya, paling membutuhkan) siswi SMP dan SMA.</p>
<p><strong><em>Intinya&#8230;</em></strong></p>
<p>Meski di Stanford hampir nggak pernah saya rasakan, rasisme dan diskriminasi eksis di Amerika. Banyak. Tapi hal-hal ini banyak dipublikasikan dan diperdebatkan, sementara di Indonesia, banyak hal yang bahkan nggak muncul ke permukaan, tapi cuma melayang di udara tanpa benar-benar di<em>address</em> sepantasnya. Banyak hal yang bahkan dipendam dan diabaikan, entah karena dianggap nggak sesuai dengan kultur bangsa atau karena dianggap sebagai sesuatu yang nggak pantas. Diversitas yang diangkat di Bhinneka Tunggal Ika adalah diversitas dengan batasan yang disetujui masyarakat, bukan diversitas dalam arti sebebas-bebasnya&#8230;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Let me know what you think! Saya nggak merasakan kuliah di Indonesia, pengen tau juga gimana masalah-masalah ini diaddress di lingkungan universitas&#8230;</p>
<p>&nbsp;</p>
<a href="http://twitter.com/share" class="twitter-share-button" data-url="http://angelinaveni.com/2011/03/14/merefleksikan-diversitas/" data-text="Merefleksikan Diversitas" data-count="horizontal">Tweet</a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://angelinaveni.com/2011/03/14/merefleksikan-diversitas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>2010</title>
		<link>http://angelinaveni.com/2010/12/27/2010-kontemplasi/</link>
		<comments>http://angelinaveni.com/2010/12/27/2010-kontemplasi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Dec 2010 16:35:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>angelinavj</dc:creator>
				<category><![CDATA[Life]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://angelinaveni.com/?p=1048</guid>
		<description><![CDATA[<p>2010 adalah tahun transisi. Dari <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/SMUK_1_Jakarta" target="_blank">SMA</a> ke<a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Stanford_University" target="_blank"> perguruan tinggi</a>, dari Indonesia ke Amerika, dari kompetitif ke kolaboratif&#8230; Dengan adanya cara pandang, budaya dan lingkungan yang berbeda,  tahun ini saya banyak berpikir, lebih dari biasanya, dan banyak mempertanyakan hal-hal yang dulu saya pegang dan percaya.</p> <p>Saya mulai menarik diri dari dunia competitive programming [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>2010 adalah tahun transisi. Dari <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/SMUK_1_Jakarta" target="_blank">SMA</a> ke<a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Stanford_University" target="_blank"> perguruan tinggi</a>, dari Indonesia ke Amerika, dari kompetitif ke kolaboratif&#8230; Dengan adanya cara pandang, budaya dan lingkungan yang berbeda,  tahun ini saya banyak berpikir, lebih dari biasanya, dan banyak mempertanyakan hal-hal yang dulu saya pegang dan percaya.</p>
<div id="attachment_1095" class="wp-caption alignright" style="width: 160px"><a href="http://angelinaveni.com/wp-content/uploads/2010/12/joints.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-1095" title="joints" src="http://angelinaveni.com/wp-content/uploads/2010/12/joints-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">1st Prize Programming Competition UGM</p></div>
<p>Saya mulai menarik diri dari dunia <em><strong>competitive programming </strong><span style="font-style: normal;">yang </span><span style="font-style: normal;">basically</span><span style="font-style: normal;"> mengisi </span></em><em><span style="font-style: normal;">hidup SMA saya</span></em>. Setelah mencapai <a href="http://angelinaveni.com/programming-2/tentang-saya/" target="_blank">prestasi puncak</a> dan mengerjakan hal2 yang sama hampir setiap hari di tahun 2009, apa yang tadinya <em>passion</em> mulai terasa menjadi rutinitas&#8230; Menang di 2 lomba nasional di paruh awal tahun ini rasanya <em>kosong</em>. Saya akhirnya memutuskan untuk mundur dari kesempatan kedua mewakili Indonesia ke <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/International_Olympiad_in_Informatics" target="_blank">International Olympiad in Informatics</a> &#8211; satu dari dua keputusan sulit yang harus saya ambil tahun ini.</p>
<p style="padding-left: 30px;">Lihat juga : <a href="http://angelinaveni.com/2010/01/17/penyisihan-i-kp-unpar-2010/" target="_blank">Penyisihan</a>, <a href="http://angelinaveni.com/2010/02/01/semifinal-kp-unpar-2010/" target="_blank">Semifinal</a>, <a href="http://angelinaveni.com/2010/02/21/final-kp-unpar-2010/" target="_blank">Final</a> KP UnPar 2010, <a href="http://angelinaveni.com/2010/04/12/final-joints-2010/" target="_blank">Final</a> JOINTS UGM 2010, <a href="http://angelinaveni.com/2010/05/23/gcj-round-1/" target="_blank">Google Code Jam Round 1B</a></p>
<p>Saya jadi lebih banyak berpartisipasi sebagai <strong>pengajar</strong> daripada sebagai kompetitor. Tahun ini, saya <em>coaching</em> Tim Olimpiade Komputer DKI Jakarta sejak tingkat provinsi, di mana saya mengajar total 70an siswa SMA terbaik dari seluruh Jakarta. Lucunya, pelatihan tingkat provinsi ini bersamaan dengan ujian A Level Cambridge saya. Jadi sering kali saya ngajar masih pakai seragam putih abu-abu, sampai sering dikira murid, bukan pelatih, sama orang-orang =p  Saya menikmati pengalaman2 mengajar ini, senang rasanya ngeliat antusiasme dan keingintahuan junior2 saya. Saya juga jadi lebih respek terhadap apa yang dilakukan guru-guru setiap hari. Sepanjang tahun saya juga <em>share</em> materi2 persiapan olimpiade informatika di <a href="http://angelinaveni.com/programming" target="_blank">sini</a>, karena inget dulu waktu masih junior saya sulit mencari bahan2 ini.</p>
<p style="padding-left: 30px;">Lihat juga : <a href="http://angelinaveni.com/2010/07/31/osn-2010/" target="_blank">Olimpiade Sains Nasional 2010</a></p>
<div id="attachment_1096" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://angelinaveni.com/wp-content/uploads/2010/12/DSC00053.jpg"><img class="size-medium wp-image-1096" title="DSC00053" src="http://angelinaveni.com/wp-content/uploads/2010/12/DSC00053-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Bersama Tim OSN Informatika Jakarta</p></div>
<p>Tahun ini saya terekspos pada <strong>perspektif baru</strong> yang sebelumnya nggak pernah saya dapat dari lingkungan dan kebiasaan saya. Titik pentingnya adalah acara <a href="http://www.markplusinc.com/index.php?page=press_release_view&amp;pid=210&amp;id=3" target="_blank">Marketing Power Lunch Time Cube</a> di mana saya bertemu tokoh2 dari banyak bidang yang menyadarkan saya tentang sisi lain IT dan hal2 menarik luar IT yang saya belum tahu. Sharing Pak Ciputra tentang <em>entrepreneurship</em> bikin saya sadar tentang &#8216;pilihan&#8217; yang nggak pernah terlintas di pikiran saya. Jadi sadar kalau selama ini saya punya tujuan yang <em>terlalu</em> jelas sampai nggak memperhatikan pilihan-pilihan lain yang ada. Sampai sekarang saya masih terus belajar banyak dari orang-orang yang saya temui di acara tersebut.</p>
<p style="padding-left: 30px;">Lihat juga : <a href="http://angelinaveni.com/2010/02/23/indonesia-youth-time-cube/" target="_blank">Indonesia Youth &#8211; Time Cube</a></p>
<div id="attachment_1098" class="wp-caption alignright" style="width: 160px"><a href="http://angelinaveni.com/wp-content/uploads/2010/12/anies.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-1098" title="anies" src="http://angelinaveni.com/wp-content/uploads/2010/12/anies-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">Bersama Pak Anies Baswedan, Petra&amp;Brian di TEDxJKT. Inspirational guy!</p></div>
<p>Big step berikutnya : <strong>twitter</strong>! Sejak lama saya menolak punya akun twitter karena saya skeptis sama budaya over-simplification dunia sekarang yang bikin penyampaian informasi setengah2 dan sering mereduksi content jadi catchphrases dan cliches. Nyatanya, kalau follow orang-orang yang tepat, <em>twitter works wonder</em>. Feednya bikin saya jadi sadar dan updated sama perkembangan IT, startup,<a href="http://techcrunch.com" target="_blank">TechCrunch</a> dan kawan2nya, dan komunitas2 kayak <a href="http://ted.com">TED</a>, <a href="http://indonesianyouthconference.org/" target="_blank">IYC</a> dan #<a href="http://twitter.com/#!/search/%23startuplokal" target="_blank">startuplokal</a> &#8211; hal2 yang tadinya nggak saya tau. Networking sama orang-orang yang nggak bakal saya kenal tanpa twitter. Saya jadi terekspos sama ide2 dan cara pandang yang berbeda, yang bikin saya lebih open-minded dan mikir dua kali buat mengabaikan ide yang asing buat saya.</p>
<p style="padding-left: 30px;">Twitter saya : <a href="http://twitter.com/angelinavj" target="_blank">@angelinavj</a></p>
<p>lalu tentu aja, <strong>Stanford! </strong>Tiga bulan pertama sebagai mahasiswi Stanford ini masa adaptasi yang enggak gampang : tiba-tiba saya 20 jam pesawat jauhnya dari ortu, tinggal di asrama sama 95 &#8216;saudara&#8217; baru, sekamar sama bule yang berbeda kultur dari saya, ngomong bahasa Inggris 24/7&#8230; secara akademis, ini artinya membiasakan diri sama gaya pendidikan yang baru dan lusinan orang yang jauh lebih hebat dari saya. Orang-orang di sekitar saya menginspirasi saya tiap hari &#8211; mereka <em>passionate</em> akan apa yang mereka lakukan, dan, kebanyakan termasuk yang terbaik di bidangnya masing2. Saya suka kelas-kelas yang saya ikuti quarter kemarin dan <em>lecturer </em>CS saya adalah guru paling jelas yang saya pernah dapet sampai sekarang. <em>Just awesome. </em>daaan&#8230;. <strong>Silicon Valley.</strong> Mekah-nya geek2 kayak saya: mungkin satu2nya tempat di dunia di mana antrian nonton <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Peter_Thiel" target="_blank">Peter Thiel</a> sama panjangnya sama antrian buat tiket nonton George Clooney, dan di mana <em>geeks rule the place</em>. Setiap hari saya bersyukur karena saya sangat, sangat beruntung bisa ada di sini dan <em>call this awesome place my home. </em>Yang mengikuti rasa syukur itu ada perasaan tanggung jawab buat manfaatin keberuntungan ini semaksimal mungkin. Proses pemilihan universitas buat saya bukannya tanpa keraguan, tapi sekarang saya bisa melihat ke belakang dan yakin kalau saya mengambil keputusan yang tepat bulan Maret lalu.</p>
<p style="padding-left: 30px;">
<p style="padding-left: 30px;">
<p style="padding-left: 30px;">
<p style="padding-left: 30px;">
<p style="padding-left: 30px;">
<p style="padding-left: 30px;">
<p style="padding-left: 30px;">
<p style="padding-left: 30px;">Lihat juga : <a href="http://angelinaveni.com/2010/03/31/stanford-and-mit/" target="_blank">Stanford and MIT</a>, <a href="http://angelinaveni.com/2009/12/14/the-fedex-pack/" target="_blank">The FedEx Pack</a>, <a href="http://angelinaveni.com/2010/12/12/merefleksikan-pendidikan/" target="_blank">Merefleksikan Pendidikan</a></p>
<p style="text-align: center;"><div id="aslideshow-4f2300ca5f675"><br />
<img src="/wp-content/uploads/2010/12/IMG_0107.jpg" alt="Pemandangan dari gedung Matematika" /><br />
<img src="/wp-content/uploads/2010/12/IMG_0053.jpg" alt="Arsitektur yang detail banget." /><br />
<img src="/wp-content/uploads/2010/12/IMG_0048.jpg" alt="Memorial Church dan gedung2 Main Quad" /><br />
<img src="/wp-content/uploads/2010/12/IMG_0033.jpg" alt="Hoover Tower" /><br />
<img src="/wp-content/uploads/2010/12/IMG_0017.jpg" alt="Lorong-lorong tipikal Stanford" /><br />
</div></p>
<p><em>Random highlight </em>tahun ini:</p>
<ul>
<li>nonton live band favorit saya, X Japan. LEGENDARY!</li>
<li>ketemu Donald Knuth, Peter Thiel, Dalai Lama</li>
<li>ketemu 2 menteri (Menpora dan Menkominfo) dan duta besar Indonesia untuk Amerika Serikat</li>
<li>shooting iklan untuk Depkominfo</li>
<li>nonton special screening Harry Potter seminggu sebelom premiere</li>
<li>pertama kali ke Medan dan makan babi panggang karo yg mantep abis sama @petrabarus</li>
<li>launching<a href="http://www.tokilearning.org" target="_blank"> TOKI Learning Center </a>yang buat saya awal kebangkitan pendidikan informatika SMA di Indonesia</li>
<li>mulai <em>commit</em> untuk blogging pakai Bahasa Indonesia semaksimal mungkin.</li>
<li>rangkaian wawancara + tawaran kerja pertama, bikin nyadar kalau dalam 3 taun ud bakal masuk dunia kerja! waktu berlalunya cepet banget.</li>
<li>nonton American football pertama kalinya (dan ga ngerti apa serunya)&#8230;.</li>
<li>dan banyak lagi!</li>
</ul>
<p>Ringkasnya, bisa dibilang kalau 2010 itu tahun <strong>kontemplasi</strong>&#8230; saya nggak melakukan banyak hal secara mendalam seperti tahun 2009, tapi tahun ini saya banyak mendengarkan dan memikirkan perspektif dan kemungkinan2 baru. Ini adalah tahun pertama sejak, mungkin, 13 tahun lalu, di mana saya nggak bisa jawab pertanyaan &#8220;Nanti kalau lulus mau ngapain? Kalau udah besar mau jadi apa?&#8221; dengan yakin. Tapi saya senang. Saya <em>excited!</em> Mungkin saya perlu merevisi blogpost saya sebelumnya (&#8220;<a href="http://angelinaveni.com/2010/06/08/dreams/" target="_blank">Dreams</a>&#8220;) &#8211; tahun ini bikin saya sadar kalau mengambil langkah mundur dan mengevaluasi tujuan itu sama pentingnya dengan proses perancangannya.</p>
<p>Makanya, tahun 2011 adalah tahun <strong>aksi.</strong> Saya expect bakal implemen hal-hal yang saya pelajari tahun ini di tahun depan; belajar lebih banyak bahasa2 buat web programming dan bikin working website (atau bahkan startup?) dengan itu, lebih explore dan networking di Silicon Valley, berkontribusi ke <em>open-source</em>, sambil coba updated terus sama perkembangan startup di Indonesia dan di Silicon Valley. Saya berharap bisa magang di tech company dan mendevelop produk yang punya <em>impact</em> ke banyak orang summer depan. Dan saya <em>look forward</em> untuk belajar banyak dari orang-orang di sekitar saya (di <em>real life </em>maupun di <em>twitter</em>). <em>It&#8217;s going to be a great year!</em></p>
<a href="http://twitter.com/share" class="twitter-share-button" data-url="http://angelinaveni.com/2010/12/27/2010-kontemplasi/" data-text="2010" data-count="horizontal">Tweet</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://angelinaveni.com/2010/12/27/2010-kontemplasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

