Menulis dengan Bahasa Indonesia di Internet itu tali tipis yang susah buat dijembatani. Terlalu formal, aneh. Terlalu rileks, aneh. Spektrum gaya bahasa yang ada dari tulisan di Kompas sampai tulisan di Kaskus itu lumayan besar – tingkat keformalan mana yang tepat? Bagaimana dengan kosakata-kosakata baru yang versi bahasa Inggrisnya begitu lekat di pikiran kita – haruskah saya menulis timeline atau linimasa? Tweet atau kicauan? Belum lagi frase-frase bahasa Inggris yang akrab diucapkan setiap hari, tapi nggak punya translasi Bahasa Indonesia yang pas. Buat mereka yang agak terbiasa berpikir dalam bahasa lain, seperti bahasa Inggris, sulit rasanya menulis dengan Bahasa Indonesia murni tanpa resorting ke bahasa gado-gado yang terkadang sulit dibaca (I’m obviously guilty).

Ini bikin saya interested – gimana sih menurut kamu cara melokalisasi produk internet global untuk pasar Indonesia? Untuk term-term yang singkat, lebih baikkah menggunakan term bahasa Inggris yang asli dan mungkin lebih familiar (“tweet”, “timeline”, “faq”), atau term bahasa Indonesia yang lokal tapi mungkin jarang dikenal (“kicauan”, “linimasa”, “yang sering ditanyakan”)? Untuk kalimat yang lebih panjang, translasi level mana dan tingkat keformalan mana yang pas?

Coba lihat sebagai contoh lokalisasi Foursquare di Indonesia, seperti ditulis temen saya Dian di post ini:

“Looks like they’re iterating on their translations, which is awesome. Just weeks ago ago I was reading their Bahasa Indonesia About page and going, WTF?! Today’s translation feels a lot more like natural Bahasa Indonesia. I peeked under the hood and it looks like they’re using the Smartling translation management platform.

a few weeks? months? ago:

Foursquare menjadi pemandu bagi pengalaman dunia-nyata, yang membuat pengguna dapat menandai informasi tentang loka yang ingin dikunjungi, dan memunculkan informasi relevan tentang loka terdekat lainnya.

now:

Foursquare memudahkan kamu menjelajahi dunia nyata. Kami merancang alat bantu yang bisa kamu gunakan untuk terhubung dengan teman, menemukan tempat-tempat di sekitarmu, menghemat uang, dan memenangkan hadiah. Baik sedang merancang perjalanan keliling dunia, menyiapkan kumpul-kumpul dengan teman, atau mencoba menemukan hidangan terbaik di restoran setempat, foursquare bisa menjadi pendamping sempurnamu.”

Memang jauh lebih bagus, tapi entah masih terdengar agak aneh personally – saya mesti baca pelan-pelan supaya bisa nangkep isi tulisannya (yup, yup, ini subyektif).

Website lokal juga berbeda-beda dalam memutuskan kapan menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Versi bahasa Indonesia Bistip.com, misalnya, masih menulis “About Us”, bukan “Tentang Kami” dan “Events”, bukan “Acara”. “Singapore”, bukan “Singapura”, “North America”, bukan “Amerika Utara”, “Post Rute Jalan” bukan “Ajukan Rute Jalan”, “We’re Hiring”, bukan “Pekerjaan”, “Join Bistip”, bukan “Bergabung dengan Bistip”, “Login”, bukan “Masuk”. Versi bahasa Indonesia TechCrunch-nya Indonesia, dailysocial.net, masih menulis “Home”, “Contact Us”, “About”, “Submit Your Startup”, “News Tips”, “Jobs”, “Read More”, “By”, “Leave a Comment”, “Cloud”, “Friends”, dan bukan translasi bahasa Indonesia kata-kata tersebut. Apalagi disdus.com, yang langsung keliatan gado-gadonya.

Interesting kalo ngeliat gimana website-website luar negeri yang melokalisasi ke bahasa Indonesia kadang-kadang terlihat ‘lebih Indonesia’ daripada website-website startup Indonesia sendiri. Website lokalisasi tsb memang lebih susah dibaca (buat saya), tapi website Indonesia yang banyak mengandung bahasa Inggris memang terasa lebih natural buat saya, tapi juga mengalienasi persentase besar orang Indonesia yang tidak bisa berbahasa Inggris.

Saya interested buat denger translasi kayak apa menurut kamu yang paling cocok buat market di Indonesia. Thoughts?

 

10 Responses to Bahasa Indonesia dan Lokalisasi

  1. petra says:

    Saya rasa ini masalah kebiasaan saja. Saya sudah beberapa tahun menggunakan fitur bahasa Indonesia di situs-situs yang saya gunakan seperti Facebook, Twitter, Google, dsb. Bahkan di beberapa perangkat lunak yang menyediakan fitur bahasa Indonesia, saya coba aktifkan fitur tersebut. Misalnya Ubuntu, Firefox, dsb. Justru sekarang saya seringkali tidak terbiasa menggunakan situs yang menggunakan bahasa Inggris. Selain itu, berdasarkan pengamatan saya, dua atau tiga tahun lalu istilah “unduh” dan “unggah” yang menggantikan “download” dan “upload” memang masih sangat tidak enak didengar, tapi sekarang orang-orang sudah mulai terbiasa dengan istilah tersebut. Jadi, ya, memang masalah kebiasaan saja.

    Dan sebagai pengembang situs internet, saya juga mengakui kalau membuat lokalisasi untuk sebuah situs itu bukan hal yang mudah. Selain masalah penerjemahan supaya bisa cocok di telinga (atau mata, lebih tepatnya), ada masalah ukuran tulisan, yang cukup mengganggu. Misalnya ada beberapa frase di bahasa Inggris yang pendek, ketika diterjemahkan jadinya sangat panjang, dan sebaliknya.

    Berbicara tentang penerjemahan ini, sekarang ada beberapa rekan pengembang yang berusaha untuk mengumpulkan padanan-padanan Inggris-Indonesia yang cocok untuk bidang teknologi informasi. Dan padanan-padanannya sudah mulai banyak dan cukup enak didengar.

  2. Peb says:

    Kalau Saya merasa lebih aneh ketika membaca teks multi-bahasa tetapi dengan gaya santai dibandingkan yang agak baku.

    Ada baiknya memang membiasakan diri setidaknya dimulai dengan konsistensi. Jika memang berniat menulis dengan Bahasa Indonesia, aspek kebahasaannya bukan hanya ditentukan dari pemilihan kata saja tetapi juga sintaksis. Saya seringkali menemukan buku laporan tugas akhir yang berisi kalimat-kalimat dalam Bahasa Indonesia tetapi menggunakan pola bahasa Inggris. Memang perbedaannya sedikit tapi bisa jadi pengekspresiannyalah yang menentukan keanehan atau tidaknya suatu teks hasil terjemahan dipahami. Selain itu tata cara penulisan sederhana juga bisa membantu seperti menggunakan cetak miring untuk kata-kata asing sehingga memicu menginterpretasi ulang kalimat tsb dengan mengakomodasi pemaknaan istilah asing dalam konteks kalimat yang menggunakan sintaks Bahasa Indonesia.

    Bahasa Indonesia juga seperti Bahasa Inggris yang memiliki koleksi frasa-frasa yang bisa jadi memberi kesan berbeda walaupun digunakan untuk maksud yang sama. Jadi seperti yang Petra juga bilang, mungkin ini masalah kebiasaan saja. People prefer things which are the most familiar with them, don’t They?

  3. om says:

    secara umum kalau dari saya ada dua pilihan jenis translasi yang mungkin bisa dipertimbangkan, yaitu pure (full indonesia) dan mix (campur inggris, arab, jawa ..eh)

    market indonesia pun masih segemented, kalau dilihat dari kebiasaan mereka mengakses internet. nah, penggunaan translasi ini kalau menurut saya melihat segmennya dulu, mana yang lebih ingin dikejar. setelah itu baru menentukan jenis translasinya..

  4. ewesewes says:

    In short: “It’s complicated.”
    No matter how “right” they do it, it feels always “wrong” for “some” people.

  5. Wah sepikiran. Saya juga pernah menulis hal yang sama mbak di blog saya, tentang kesedihan melihat bahasa indonesia campur inggris makin marak. Kadang grammarnya indonesia tetapi vocabnya inggris semua.
    Betul sih, menurut saya ini mah masalah kebiasaan saja. Karena biasa meliat internet pakai bahasa inggris, ya kebiasaan. Bahkan banyak dosen begitu, campur-campur saat mengajar di kelas.
    Kalau menurut saya sih tugas kita orang yang terpelajar yang mulai membiasakan diri. Gak mesti siapa target pembacanya. Yang penting dimulai dulu supaya banyak yang biasa mendengar. Di tulisan, di update status, di obrolan. Lokalisasi yang kira-kira bisa dilokalisasi. Hehe… Daripada lama-lama timbul istilah indolish, kan repot.
    Oh ya mbak, kritik bentar. Interested dan interestingnya kan bisa diganti tertarik dan menarik. Hehe, agak nggak sesuai dengan jiwa artikelnya saja.

  6. Ali Jaya Meilio says:

    Hmmm… menurut saya… English for the win… kalau mau di translate ke Indonesia… istilah2 yang susah ditranslate mending tetep jadi bahasa Inggris.
    Karena percuma juga kalau udah susah2 diubah ke bahasa Indonesia tapi tetep bahasanya gak dimengerti oleh orang Indonesia yang awam dalam berinternet ria… apalagi sampe2 gak dimengerti oleh orang Indonesia yang sudah make internet sejak lama…
    Unduh dan Unggah misalnya… ini sama sekali bukan kata yang sering dijumpai oleh orang Indonesia… jadi saya pikir lebih baik pakai Download dan Upload… yups, pakai ini juga orang Indonesia yang awam juga gak bakalan ngerti. Tapi bukannya dua2nya kasusnya sama, mereka bakal nanya yang lain itu artinya apaan? Nah mending tetep pakai bahasa Inggris karena selain membiasakan dengan website luar yang kebanyakan bahasa Inggris, dan juga gak nyusahin ngetranslate dan nyari padanan kata yang tepat ke Indonesia, dan juga gak ngebingungin pemakai internet yang dulunya sudah kebiasa pakai bahasa Inggris.

    So in conclusion… kalau pengen diterjemahin ke Indonesia, istilah2nya aku prefer tetep ke Inggris, hanya artikel sama paragrafnya aja yang pake bahasa Indonesia.

  7. ziaul says:

    perlu di benahi lagi,

  8. Chris Cov says:

    Kalo soal teks berparagraf memang tergantung dari gaya menulis si penulis (atau penerjemah dalam kasus ini.) Namun bila berhadapan dengan tata bahasa antarmuka sebuah situs, padanan kata dalam bahasa Indonesia sebenarnya sudah termasuk sangat baik; seperti contoh pada lokalisasi Facebook ataupun WordPress.org
    Cuman yang menarik, apapun situsnya, pokoke unduh dan unggah FTW!

  9. didut says:

    dan didalam postingan ini masih ada kata interested daripada tertarik hahahaha~ .. but interesting thought ^^

Leave a Reply to Chris Cov Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Set your Twitter account name in your settings to use the TwitterBar Section.