Posting ini kumpulan pemikiran, kontemplasi dan pengalaman beberapa bulan terakhir ini yang nggak cukup panjang buat ditulis di post sendiri.. Maklumkan kalau dari paragraf ke paragraf nggak berhubungan satu sama lain.

Beberapa bulan lalu, waktu ngobrol tentang cewek di Computer Science, ada temen (US-based) yang komentar kalau di Indonesia, belom dikenal atau punya pengertian beda tentang konsep sexism. Menggarisbawahi/memperlakukan cewek CS secara spesial dianggap ofensif di US, tapi di Indonesia dianggap memuji. Saya tertarik denger komentar kalian tentang ini – setuju? nggak setuju? Dari pengalaman saya pribadi, orang Indonesia gampang untuk bikin komen sexist (yang kadang-kadang ofensif) tentang cewek geek / cewek di CS dengan alih bercandaan – hal yang gak pernah saya rasakan di sini.

Berhubungan dengan itu, video TED talk-nya Sheryl Sandberg (COO Facebook) tentang women leadership ini highly recommended. Balance dan persamaan gender itu nggak cuma dalam persentase di dunia kerja, tapi juga di rumah tangga… Ketemu beliau secara langsung beberapa hari lalu adalah salah satu pengalaman paling mengesankan buat saya selama ini.

Quarter lalu saya menulis research paper tentang program dan konsep pencegahan HIV/AIDS di Indonesia, dan proses penulisan research paper itu bikin saya belajar banyak tentang Indonesia, terutama tentang gender dan kaum minoritas. Saya jadi merasa perlu untuk menambahkan post saya sebelumnya, Merefleksikan Diversitas, di mana saya menulis tentang Indonesia dan komunitas LGBT (Lesbian/Gay/Bisexual/Trans): antropolog2 ternyata menganggap Indonesia sebagai negara yang sangat toleran terhadap kaum LGBT secara historis… Suku Bugis, misalnya, mengakui lima gender. Dalam budaya Ponorogo, warok (pemimpin Reog Ponorogo) tidak diperbolehkan berhubungan seksual dengan perempuan, sehingga hubungan homoseksual terjadi di kalangan warok. Trivia lain yang menarik, walaupun pemerintah memberikan kondom gratis untuk program KB dan untuk pencegahan HIV/AIDS (ke kalangan PSK), ternyata warna kondomnya berbeda. Ini mencerminkan marginalisasi kaum high-risk HIV/AIDS dari general public di Indonesia.

Beberapa comments komentar tentang penggunaan bahasa di blog ini. Di satu sisi, menulis di Bahasa Indonesia bikin saya merasa lebih dekat sama Indonesia. Di sisi lain, ada banyak frase yang saya sering pakai di sini, buat saya, susah diekspresikan di Bahasa Indonesia. Selain itu, saya paling sebal baca blog / status / tulisan orang Indonesia yang berbahasa Inggris, tapi a) kacau grammar dan vocabnya, sampe nggak bisa dimengerti, atau b) sok pake struktur yang aneh-aneh tapi berantakan. Mayoritas tulisan-tulisan lainnya penuh bahasa SMS / gaul, yang jauh dari bahasa Indonesia “yang baik dan benar.” Dengan rate seperti ini, bahasa Indonesia bakal punah. Karena di kehidupan sehari-hari saya hampir nggak pernah ngomong atau baca bahasa Indonesia (yang baik dan benar), blog ini adalah usaha terdekat saya buat tetap in touch dengan bahasa ibu dan sebagai protes kecil pribadi saya ke penulis tulisan-tulisan yang saya sebal di atas tadi. At least kalau tulisan blog saya bisa dibaca di Google Translate, saya sudah cukup happy :)

More people need to stop being overly-optimistic and start to be realistic

Di post lalu, saya sempet cerita tentang salah satu buku favorit saya, Brave New World Revisited (Aldous Huxley), di mana beliau mengkritisi ‘oversimplification’ sebagai bahaya di dunia modern. Realitanya sekarang? Twitter. I love Twitter, tapi semakin lama semakin muak melihat ‘konten’ seseorang direduksi jadi soundbites yang cuma 140 huruf. Secara pribadi saya ga pernah ngerti popularitasnya pretty quotes di Twitter – sekeren apapun quote, kalimat ya kalimat, nggak ada manfaat realnya buat saya…  Belakangan ini jadi lebih sering buka Quora.

Google before you ask, please.

Glad to put these rants out. As always, comments are welcomed! Post berikutnya bakal cerita singkat tentang Facebook…

PS: terinspirasi nge-dump left-over thoughts ke 1 post ini setelah baca blogpost terakhir Afutami.

 

2 Responses to Random thoughts

  1. Arya says:

    Agreed on your point about Huxley, and you’ve probably seen this:

    http://www.recombinantrecords.net/docs/2009-05-Amusing-Ourselves-to-Death.html

    “Huxley feared the truth would be drowned in a sea of irrelevance.”

Leave a Reply to Adam Ramadhan Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Set your Twitter account name in your settings to use the TwitterBar Section.