Sejak sekolah dulu, saya nggak pernah ngerti kenapa hari Kartini selalu disertai lomba / parade baju daerah – apa hubungannya dengan emansipasi wanita? Kenapa lagu wajib Hari Kartini selalu menyebut beliau “Ibu kita Kartini”, padahal beliau awalnya menentang pernikahan?

Menurut buku “Gender, Islam and Democracy in Indonesia” (Kathryn Robinson), ada hubungan erat antara dinamika politik Orde Baru dengan perubahan peran Kartini sepanjang sejarah.  Di masa Orde Baru, Suharto berusaha menyatukan / menasionalisasikan diversitas bangsa dengan konsep ‘keluarga’ (azas kekeluargaan) dan peran perempuan diekspresikan sebagai kodrat wanita.

“The close association of women with wifehood and mother-hood in official rituals and rhetoric of the New Order express the effort to subsume the diversity of gender constructions around the archipelago under one national definition of femininity, discursively rendered through organizations such as PKK and SW, and the family planning programme.”

Lalu, ‘pembentukan’ sosok Kartini sebagai bagian propaganda ini :

“The reworking of Kartini’s life story in the official Indonesian accounts published during the New Order had the effect of diluting her feminist credentials (Tiwon 1996). The young woman who declared to her correspondents in the Netherlands that she never wanted to marry is presented in the Indonesian biography and translation of her letters as arguing that she did not want an  arranged marriage. Her transformation into a model for the contemporary Indonesian woman is completed by her designation as Ibu Kartini (ibu literally ‘mother’) According to Ailsa Zain’uddin (1986;271) Sukarno is said to have changed the original words of the song celebrating her from ‘Raden Ajeng Kartini’, her title prior to marriage, because it emphasized her status as an unmarried woman.

Ironisnya, peringatan hari Kartini menjadi “empty ritual celebration of feminine beauty” dan bukan nilai edukasi yang diperjuangkan Kartini…

 

 

5 Responses to Kartini, bukan Ibu Kartini…

  1. Bimo says:

    Yap. Selamat Hari Kartini :D

  2. DiN says:

    ‘Ibu’, ‘Bunda’ adalah julukan kita sebagai orang Indonesia untuk seorang wanita yang kita hormati. Ini hal yang wajar juga untuk kebanyakan budaya di Asia (Timur).

  3. angelinavj says:

    Buku ini hasil research antropologi/linguistik/sosial. Tadinya saya juga, walau agak bingung, settled dengan reasoning, “ah ini kan udah dari sananya” – tapi buku2 riset begini ngasih penjelasan dan reasoning scientific ke yang buat kita udah biasa dan commonplace.ini kan juga based on paper2 yang udah di peer review dengan ketat sama akademisi… Menurut saya layak didengar sih:)

  4. arie rahayu says:

    Wah, ngeri juga yah. Masak pendapat saja harus disensor, pake diubah segala lagi.

  5. iyut says:

    Kartini bukannya tidak ingin menikah tetapi tidak ingin dijodohkan. Artikel ini mungkin hanya penggalan. Tetapi sepertinya (mudah-mudahan saya salah) menekankan bahwa pernikahan adalah buruk. Padahal kita tahu banyak wanita yang menikah tetapi mendapatkan kedudukan yang tinggi. Contohnya Mooryati Sudibyo, Martha Tilaar, Sri Mulyani dan banyak lagi.
    Jadi pernikahan bukanlah untuk merendahkan wanita dan tidak menghalangi wanita mendapatkan kedudukan yang lebih tinggi. Bahkan wanita yang menikah dan bisa mendapatkan kedudukan yang tinggi jauh lebih baik dari wanita single yang mendapatkan posisi yang sama. kenapa ? Secara waktu, tenaga dan perhatian wanita menikah sangat sempit. Jadi mereka mempunyai semangat, kemampuan, tenaga dan pikiran yang lebih besar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Set your Twitter account name in your settings to use the TwitterBar Section.