Beberapa minggu lalu, saya mengikuti “Crossing the Line”, acara wajib untuk Stanford freshmen yang menjadi salah satu momen paling berkesan di quarter kedua ini buat saya, dan membuat saya berpikir lebih dalam tentang diversitas, juga eksistensinya di Indonesia.

Singkatnya, sekitar 80an freshmen di asrama berdiri dalam lingkaran dan seorang pemandu (dari Residential Education) bakal bilang sebuah kalimat. Lalu semua orang yang merasa kalimat itu menggambarkan mereka bakal maju ke tengah lingkaran dan menghadap ke orang-orang lain. Proses ini diulang terus-menerus selama hampir 2 jam, tanpa seorangpun, selain si pemandu, berbicara. Contoh kalimat-kalimatnya? (“Cross the line, if…”)

  • kamu berasal dari lingkungan yang homogen.
  • kamu berasal dari keluarga tingkat atas / menengah / miskin.
  • kamu nggak bisa bersekolah di Stanford tanpa financial aid / beasiswa
  • kamu merasa social status adalah topik yang sulit dibicarakan di Stanford.
  • kamu adalah orang pertama dalam keluarga yang bersekolah
  • kamu merasa minoritas secara rasial
  • kamu mengenal orang yang pernah menjadi korban diskriminasi rasial
  • kamu pernah menjadi korban diskriminasi rasial
  • kamu merasa masalah ras adalah topik yang sulit dibicarakan di Stanford.
  • kamu merasa atraktif.
  • kamu merasa tidak atraktif.
  • kamu merasa perlu mengurangi berat badan.
  • kamu berharap terlahir dengan jenis kelamin lain
  • kamu pernah menjadi subjek diskriminasi gender
  • kamu pernah mempertanyakan orientasi seksualmu
  • kamu pernah menganggap sesama jenis atraktif
  • kamu mengenal orang yang homoseksual, biseksual, transgender atau queer.
  • kamu gay, lesbian, biseksual, transgender, atau queer.
  • kamu pernah berkata, “you’re so gay” sebagai candaan / cemoohan.
  • kamu minum alkohol.
  • kamu tidak minum alkohol.
  • kamu berhubungan seks secara aktif.
  • kamu melakukan seks dengan konstrasepsi.
  • kamu memiliki prinsip sexual abstinence.
  • kamu menganggap seks pra-nikah tidak agreeable.
  • kamu menganggap seks pra-nikah bukan masalah.
  • kamu percaya Tuhan.
  • kamu tidak percaya Tuhan.
  • kamu memeluk agama.
  • kamu mempertanyakan kepercayaanmu sejak datang ke Stanford.
  • kamu merasa tidak nyaman memeluk agamamu di Stanford.

dan masih banyak lagi, yang nggak hanya berhubungan dengan diversitas (kamu pernah tertawa dalam seminggu terakhir?). Selalu ada orang yang maju di hampir semua kalimat, dan semua orang diam, tidak berkomentar. Buat banyak orang, termasuk saya, ini membuat kita bertanya banyak pertanyaan yang sebelomnya nggak pernah kita tanyakan ke diri sendiri. Buat banyak orang, ini berarti mengakui hal-hal yang biasanya nggak pernah muncul ke permukaan secara publik. Yang buat seseorang remeh bisa jadi substansial untuk orang lain.

Selama hampir dua jam ini saya menyaksikan wujud diversitas yang paling gamblang – nggak terbatas pada ras, suku, agama dan status sosial, tapi juga dalam cara pikir dan prinsip. Semuanya di dalam orang-orang yang hidup di sekeliling saya lima bulan terakhir ini. Sering kali saya kaget – melihat orang-orang yang terlihat perfect ternyata punya body image issues, melihat orang yang saya kira konservatif ternyata melakukan seks pra-nikah, kaget melihat orang-orang yang, tanpa saya sangka sama sekali, mempertanyakan orientasi seksual mereka.

Saya nggak bisa berhenti berpikir – kalau acara serupa diadakan di komunitas Indonesia, apakah ada pertanyaan-pertanyaan yang bakal dihilangkan? Lebih tepatnya – apakah masyarakat, sekolah, universitas, pemerintah, mengakui secara gamblang kalau cara pandang yang berbeda itu eksis dan ada – bukan cuma di literatur atau di dunia barat, tapi juga di sekitar kita?

Indonesia dan Homoseksualitas

Pertanyaan terakhir muncul di pikiran saya sejak membantu sebuah proyek School of Education di Stanford. Dalam proyek itu, saya diberikan beberapa buku pelajaran SMP keluaran Indonesia dan berbahasa Indonesia, juga sebuah list tentang isi buku itu yang perlu saya tick. Misalnya, apakah buku itu memuat sedikitnya 1 paragraf tentang ekonomi. Dalam 12 buku yang saya telaah, ada 1 kotak yang nggak pernah tercentang sama sekali. Apa itu? homoseksual. Dalam 12 buku IPS / PKn kelas 6 – 9 yang saya baca, banyak dari antaranya keluaran Departemen Pendidikan, nggak ada satupun kata homoseksual di dalamnya. Beberapa bahkan punya 1 atau lebih bab tentang toleransi dan diversitas. [ saya sadar kalau 12 buku, tentunya, nggak banyak, dan nggak bisa menjadi dasar konklusi statistik yang valid ], tapi ini mendorong saya untuk berpikir – apakah pendidikan Indonesia pernah mengakui kalau ateisme itu ada? bahwa kontrasepsi adalah pilihan yang ada? Dan hal-hal ini bukan cuma konsep ‘kosong’, tapi juga dipercayai orang? Saya sadar kalau Indonesia berdiri dengan landasan prinsip yang berbeda dengan Amerika Serikat, dan kita memiliki nilai kultural yang berbeda dengan negara Barat, tapi mengakui bahwa sesuatu ada tidak sama dengan persetujuan bahwa hal itu diperbolehkan. Ketika perbedaan bahkan tidak diakui keberadaannya, bagaimana kita bisa ‘bersatu dalam perbedaan’ (Bhinneka Tunggal Ika)?

Tinggal di sini selama beberapa bulan dengan segala diversitasnya memberi konteks pada hal-hal yang sering dijadikan bahan bercandaan sehari-hari. Dalam salah satu acara orientasi, dialog antar semua orang di asrama saya, ada 1 orang yang tunjuk jari dan bilang, bahwa dia nggak mau mendengar bercandaan tentang pemerkosaan, karena salah satu teman baiknya korban pemerkosaan dan bahwa itu bukan sesuatu buat dijadiin bercandaan. Saya mengenal beberapa homoseksual yang saya deeply respect, dan bercandaan “homo lu!” jadi lebih ofensif daripada dulu - karena dia refer ke orang-orang yang saya kenal secara personal sebagai sesuatu yang salah. Selama ini beberapa kalangan minoritas menjadi sesuatu yang sekedar out there dan enggak bener-bener diaddressed di pemerintah/sekolah/komunitas, membuat kesan kalau mereka outlier yang nggak seharusnya ada di komunitas – kesan kalau mereka cuma ada di tempat yang asing buat kita – secara nggak langsung bikin kita merasa harmless untuk bikin joke tentang itu.

Gender di Computer Science

Saya merasa isu gender di computer science (atau di banyak bidang lainnya, tapi bidang ini particularly applies buat saya) kurang tersentuh selama saya di Indonesia dulu, setidaknya sepengetahuan saya yang masih SMA waktu itu. Waktu saya mulai belajar programming, saya ingat ada orang yang bilang kalau itu bukan bidang saya. Bahkan ketika saya sudah berstatus medalis nasional, ada yang bilang kalau saya programmer yang oke, untuk ukuran cewek (mungkin maksudnya pujian ya, tapi terasa ofensif).. Dan saya merasa nggak punya komunitas atau orang untuk di- look up to. Tapi isu ini cukup dilematis – di satu sisi, perlu ada usaha untuk mempromosikan computer science di kalangan perempuan (yang otherwise mungkin nggak terpikir tentang mendalami ini), tapi di sisi lain, memberi leeway atau banyak kemudahan juga membuat mereka merasa nggak disejajarkan dengan pria.

Di sini, ada banyak conscious effort untuk promote perempuan di underrepresented area seperti Computer Science, lewat komunitas-komunitas: di Stanford, ada Society of Women Engineers dan Women in Computer Science, hampir di semua company tech besar ada komunitas perempuannya, ada scholarship-scholarship khusus perempuan, seperti Google Anita Borg Memorial Scholarship, dan ada komunitas seperti Women 2.0. atau Girls in Tech. Ada penelitian-penelitian yang meriset tentang edukasi computer science untuk perempuan, dan banyak yang telah diinkorporasi ke kurikulum kelas introduksi pemrograman di Stanford.

Ada banyak universitas dan perusahaan yang menggunkaan sistem affirmative action, di mana mereka memperhitungkan suku, ras, agama, gender, status sosial dalam penerimaan. Di sisi lain, ketika saya menjalani  proses wawancara untuk magang di beberapa perusahaan teknologi belakangan ini, salah satu hal paling menarik selama proses ini adalah bagaimana competency-based nya proses ini. Saya sering lihat orang wawancara cuma pake kaos dan jeans, cewek-cewek tanpa makeup atau high-heels… Prosesnya sangat straight-forward: masuk, duduk, say hi dalam kurang dari semenit, kasih pertanyaan programming, kita nulis di papan tulis, dan that’s it. Saya sempet onsite-interview dengan early startup company yang cuma punya sekitar 15 employees – tanpa female-engineers.  Entah kenapa proses wawancara perusahaan tech ini terasa lebih nyaman buat saya dibandingkan affirmative action – saya merasa dihargai sebagai bukan sebagai female programmer tapi sebagai programmer – dihargai untuk kompetensi saya dan bukan hal-hal eksternal lainnya. Sangat fitting buat bidang ini, karena, well, komputer itu objektif. In the end, gender atau faktor eksternal lainnya nggak boleh dicampur adukkan dengan kompetensi. Dukungan ke minoritas itu harus dari hal-hal yang fundamental, yang sifatnya ‘pembekalan’ dan learning, bukan dari hal-hal yang sifatnya reward

Anyway, saya senang sekarang sudah ada Girls in Tech Indonesia, yang sekarang sepertinya bergerak di kalangan wanita eksekutif. Saya harap bisa bergerak ke ranah (yang menurut saya, paling membutuhkan) siswi SMP dan SMA.

Intinya…

Meski di Stanford hampir nggak pernah saya rasakan, rasisme dan diskriminasi eksis di Amerika. Banyak. Tapi hal-hal ini banyak dipublikasikan dan diperdebatkan, sementara di Indonesia, banyak hal yang bahkan nggak muncul ke permukaan, tapi cuma melayang di udara tanpa benar-benar diaddress sepantasnya. Banyak hal yang bahkan dipendam dan diabaikan, entah karena dianggap nggak sesuai dengan kultur bangsa atau karena dianggap sebagai sesuatu yang nggak pantas. Diversitas yang diangkat di Bhinneka Tunggal Ika adalah diversitas dengan batasan yang disetujui masyarakat, bukan diversitas dalam arti sebebas-bebasnya…

 

Let me know what you think! Saya nggak merasakan kuliah di Indonesia, pengen tau juga gimana masalah-masalah ini diaddress di lingkungan universitas…

 

Tagged with:
 

2 Responses to Merefleksikan Diversitas

  1. Mantap, Ven. Setuju dengan poin dimana sekolah di Indonesia belum men-encourage para siswanya untuk mendefinisikan kata ‘diverse’. Sering di sebut, jarang dibahas. Hasil akhirnya, banyak pandangan bias. Belum pernah mendengar kata ‘ateisme’ dan ‘homoseksual’ di pelajaran PKn maupun kewarganegaraan.

    Jempol untuk pelajaran yang didapat di Stanford, Ven! Gue saranin mulai coba kirim artikel ke media. Good luck take-home examnya ya! Ini bukan procrastinating, Ven, yang namanya procrastination itu nge-youtube atau nge-facebook, haha!

  2. Dalam konteks Indonesia, saya setuju bahwa diversitas itu hanya diakui, tapi toleransi dan penerimaan atas perbedaan tersebut terlihat kurang. Mungkin ada gunanya melihat sudut pandang Dr. Eka Darmaputera almarhum yang mencoba menjelaskan mengapa (http://www.leimena.org/id/page/v/463/konteks-kesatuan-dan-kepelbagaian).

    Di tahun-tahun terakhir, globalisasi dunia dengan masuknya ide-ide toleransi melalui kultur Barat sepertinya sedikit banyak membantu pertumbuhan toleransi dan penerimaan perbedaan di Indonesia.

    Namun, memang penerimaan perbedaan tidak bisa berdiri sendiri sebagai prinsip dasar seseorang; karena seorang individu haruslah mempunyai pegangan pribadi yang akan menentukan sikap dan perbuatannya dalam berkarya kehidupan; dan pegangan tersebut tidak bisa tidak pasti akan bertabrakan dengan prinsip2 bersebrangan yang dianut individu2 lainnya. Jadi di sini saya setuju lagi dengan anda ketika mengatakan bahwa semangat agree to disagree in a civilized manner adalah satu lagi sikap yang masih perlu lebih banyak dipelajari oleh rakyat Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Set your Twitter account name in your settings to use the TwitterBar Section.