Yup, saya baru menyelesaikan quarter pertama saya sebagai mahasiswi Stanford University! Tiga bulan ini sangat berarti buat saya – saya melihat kultur yang berbeda, mengadaptasi cara pandang yang berbeda, merasakan gaya pendidikan yang berbeda. Dalam post ini saya ingin berbagi aspek-aspek pendidikan Stanford yang mengesankan saya, refleksi saya terhadap pendidikan yang saya dapat di Indonesia sebelumnya dan apa yang saya harap bisa diterapkan di Indonesia.

Moral, bukan agama

Sebulan sesudah saya mulai bersekolah, saya bertemu His Holiness the Dalai Lama saat beliau berbicara di Stanford mengenai compassion. Poin speechnya yang paling berkesan buat saya, adalah ketika beliau bilang bahwa compassion itu tidak melihat agama, dan bahwa pendidikan seharusnya tidak religiocentric atau berpusat pada suatu ideologi agama, namun pada moral values, compassion, yang universal. Menarik, mengingat beliau adalah pemimpin agama.

Saya setuju dengan beliau. Rasanya struktur pendidikan agama di Indonesia tidak sesuai dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika itu sendiri. Katanya negara kita negara toleransi dan understanding antar 5 agama, tapi saya merasa hampir tidak tahu apa2 tentang Buddha, Hindu, dan Islam dari sekolah, selain nama kitab suci mereka, nama tempat ibadah, nama hari raya, nama tokoh besar. Yup, hal-hal penting. Tapi superfisial. Pertama kalinya saya merasa ‘mengerti’ agama, adalah ketika saya sekamar dengan teman beragama Islam sewaktu pelatihan, dan dia mengajarkan saya arti gerakan-gerakan sholat. Di Stanford, saya belajar meditasi Buddhisme Zen dan belajar ideologi mereka, dan ternyata banyak yang bisa saya pelajari dari sana.

Pendidikan agama di Indonesia yang cuma berpusat pada 1 agama tertentu, membawa notion bahwa agama lain adalah “bukan agama saya, bukan urusan saya.” Menurut saya, pendidikan moral seharusnya menarik ideologi kelima agama dan menelaahnya secara universal, yang berlaku pada semua orang. Bila ada aspek2 di mana ajaran mereka berlawanan, telaahlah tentang semuanya. Jangan take side tentang mana yang benar. Pelajarpun akan tumbuh menjadi orang-orang yang dunianya tidak berpusat pada kepercayaannya sendiri, tapi peduli dan punya deeper understanding tentang kepercayaan lain. Pelajaran bukan mestinya berarah pada membuat murid beriman, tapi memberikan pengetahuan dan latar belakang untuk mendorong murid menemukan imannya sendiri.

Trust, Expectation, Responsibility

Saya kaget banget waktu ujian pertama saya di sini. Kita masuk ke auditorium, duduk sesuka hati, dibagiin kertas ujian, lalu semua lecturer/TA keluar dari ruangan dan nunggu di luar. Ga ada orang yang jaga ruang ujian. Yang ada cuma 1 paragraf di depan kertas ujian “Saya mengerti dan menjalankan Honor Code. Saya tidak menerima bantuan yang tidak diizinkan sebelum, ataupun selama tes berlangsung.” dan tanda tangan kita. Kalau mau mencontek, gampang aja. Di sini murid bener2 dipercaya… Ekspektasi awal orang terhadap murid positif, bukan negatif. Kami dipercaya membuat keputusan sendiri, bahwa kita bisa bertanggung jawab atas kepercayaan itu. Ini tercermin juga dari kelas online wajib AlcoholEdu, tentang alkohol di kampus. Yang menarik, di pendahuluan kelas itu, ditulis : “Kami tidak akan menggurui kamu untuk tidak minum. Kami hanya akan memberikan informasi, dan adalah kebebasan kamu untuk memutuskan.”

Ini buat saya breath of fresh air. Saya biasa dibilang, jangan begini, jangan begitu. Rasanya selalu ada prasangka yang unspoken, seperti kita harus selalu diarah-arahkan untuk bisa berbuat benar. Seperti kita akan mencontek kalo nggak ada yang melihat. Seperti kita bakal melakukan hal buruk kalo kita nggak ada yang melarang. Rasanya, kepercayaan seperti yang diterapkan di sini lebih ampuh. Karena merasa dipercaya, ada rasa tanggung jawab. Dan nggak ada bahan untuk ‘diberontakkan’, seperti yang, rasanya, banyak terjadi pada orang-orang yang terlalu banyak diatur. Poin saya di sini : expect yang terbaik dari murid, dan pastikan kalau murid menyadari itu.

Diversitas dan Individualitas

Pendidikan di US membawa apresiasi akan diversitas ke level yang lebih jauh, dengan membentuk jurusan-jurusan baru yang menggabungkan jurusan2 berbeda yang saling berkaitan (interdisciplinary study). Misalnya, Symbolic Systems (contoh lulusan : Google’s Marissa Mayer) yang menggabungkan Computer Science, Philosophy, Psychology, Linguistics, Communication, dan Education – memberikan programmer2 spesialisasi dalam mengerti dan mengkomunikasikan keinginan user. Management Science & Engineering yang seperti menspesialisasikan MBA ke bidang-bidang sains dan engineering. Human Biology, yang menggabungkan biologi, farmasi obat2an, nutrisi, dan antropologi. Interdisciplinary study seperti ini membawa pendidikan ke arah yang lebih spesifik dan terspesialisasi, serta mendayagunakan orang-orang yang punya beragam interest. Hampir semua (atau semua?) departemen memungkinkan mahasiswa untuk mendesign majornya sendiri.

Pendidikan di sini menghargai individualitas – tugas-tugas di kelas banyak yang sangat open-ended dan memungkinkan siswa melakukan apa yang jadi passionnya tanpa banyak pembatasan. Tugas akhir kelas humanities saya, misalnya, hasilnya bermacam2: film, film bisu, skit, rap, bahkan dunia virtual hasil permainan The Sims. Dan para profesor pun bisa menghargai hasil-hasil yang nggak konvensional. Salah satu hal yang paling sering ditekankan kepala asrama saya adalah kata-kata : “Don’t judge.” Jangan mengomentari atau mempertanyakan preferensi teman kamu dalam aspek apapun. Kalau kamu ditanya kenapa suka The Beatles, misalnya, jawaban “Because I do.” adalah jawaban yang valid, dan orang lain nggak punya hak bertanya lebih jauh.

Dua aspek ini terkadang hilang dari sistem pendidikan Indonesia. Murid didikte akan kelas-kelas apa yang harus diambil, dan ada semacam persepsi akan pelajaran mana yang lebih penting daripada yang lain. Pertanyaan yang tidak open-minded menjuruskan pikiran murid ke satu arah tertentu, dan sering kali pelajaran memojokkan orang dengan cara pandang yang berbeda.

Entrepreneurship

Di sini saya benar2 sadar kunci utama kemajuan entrepreneurship di US : pendidikan. Universitas, terutama. Teman saya, graduate student yang sempat intern di Facebook summer lalu, bilang kalo waktu dia bertemu mahasiswa CS di Stanford, hampir semua bilang kalau mereka mau membuat startups, bukan bekerja. Emphasis Stanford terhadap entrepreneurship benar2 kuat – aura entrepreneurship di sini adalah one of those things yang harus ada di sini untuk ‘ngerasain’ itu. Environmentnya luar  biasa kondusif. Kerja di small or start-up company adalah sesuatu yang hip di sini. Mahasiswa punya start-up itu biasa. Banyak faculty di sini yang entrepreneurs themselves atau berhubungan dekat dengan perusahaan2 (presiden Stanford, John Hennessy, adalah boardmember di Google dan banyak company lain) – dan mereka ready untuk mentor entrepreneurs secara langsung. Professor Frederick Terman, misalnya, menjadi mentor Hewlett dan Packard waktu mereka masih di garasi di Palo Alto, dan mendorong terbentuknya Silicon Valley. Larry Page dan Sergey Brin sering menyebut Professor Terry Winograd sebagai pengaruh besar terbentuknya Google.

Di kampus, kami punya Stanford Student Startup Lab (semacam YCombinator), Stanford Technology Venture Program, seminar mingguan tentang entrepreneurship, kelas entrepreneurship, konferensi entrepreneurship, Startup School, dan banyak kontes-kontes entrepreneurship di kampus. Kami punya job fair khusus start-ups. Kedekatan kami dengan Silicon Valley membawa banyak tokoh bicara di sini – dalam tiga bulan, saya bertemu Seth Sternberg (cofounder Meebo), Peter Thiel (CEO Paypal & venture capitalist), beberapa venture capitalist dan eksekutif dari Facebook, Twitter, dan Foursquare. Mark Zuckerberg ‘mampir’ ke salah satu kelas pendahuluan Computer Science. VC atau tokoh2 Silicon Valley sering datang ke sini menilai presentasi2 tugas akhir.

Ujung tombak perubahan adalah universitas. Untuk Indonesia bisa membentuk ‘Silicon Valley’nya sendiri (seperti wacana yang belakangan ini sering muncul), yang harus ada di depan bukan pemerintah, tapi universitas – bagaimana mereka melibatkan startups yang sekarang menjamur di Indonesia dalam proses pendidikan, dan berperan lebih aktif dalam mengembangkan kultur entrepreneurship. First and foremost, seharusnya, adalah bagaimana membuat bekerja di startup sebagai sesuatu yang nggak asing atau aneh. Dari sisi lain, startups juga baiknya membuka kesempatan magang bagi mahasiswa-mahasiswa.

Praktikalitas

Selama SMA, saya mengamati, dan merasakan, bagaimana pelajaran dasar programming sangat mudah untuk jadi ‘membosankan’. Kode looping, percabangan, teks hasilnya keluar di layar warna hitam…. Dan murid akan bertanya, “terus kenapa? Apa gunanya?” Dan waktu saya sempat mengajar di beberapa pelatihan, saya cuma bisa bilang “sabar ya. ini masih dasar, tapi bentar lagi ada good stuffnya.” Karena itu saya impressed melihat bagaimana approachable-nya kelas programming dasar di sini.

Kelas dasar programming di Stanford terdiri dari 2 bagian, CS 106A dan CS 106B. Kelas CS 106A menarik hampir seribu murid setiap tahunnya, sebagian besar tanpa pengalaman programming sebelumnya. Minggu pertama kelas itu, mereka bermain dengan Karel, teaching language mirip Pascal, tapi sintaksnya sangat disederhanakan, dan belajar konsep-konsep dasar programming tanpa perlu terlalu khawatir dengan masalah sintaks. Setelah itu, mereka belajar Java. Kelebihan kedua kelas ini, menurut saya, adalah profesor-profesornya sudah mengkode library yang customized untuk kelas-kelas ini, termasuk tampilan grafis yang menarik dan struktur data yang lebih learner-friendly. Sejak awal, dari semua tugas kedua kelas ini, programming dibuat menantang, tapi hasilnya bisa dinikmati. Tugas terakhir CS 106A adalah membuat facebook yang bisa diikuti dan dimainkan murid-murid pengambil kelas tersebut (dan Mark Zuckerberg jadi surprise guest lecturer di kelas terakhir). Tugas terakhir kelas CS 106B adalah versi sederhana Google Map.

Waktu orientasi, ada ‘demo kelas’ tentang machine learning. Profesornya nunjukkin video helikopter akrobatik yang muter2 di angkasa, dan bilang kalo itu dimulai dari proyek siswa sophomore (tingkat dua). Kelas CS 193 (iPhone & iPad Application Programming) menghasilkan aplikasi2 yang sekarang ada di iTunes Store. Aplikasi Pulse untuk iPad yang mendapat rave reviews di TechCrunch adalah hasil kelas di d.school. Tugas akhir kelas database adalah membuat situs seperti eBay. Salah satu hasil terbaiknya adalah website ini (murid yang membuat website tsb juga membuat website YouTube Instant yang sempat viral, diliput TechCrunch, dan ditawari posisi di YouTube langsung oleh CEOnya via Twitter. Awesome guy in person too).

Caution : ternyata ytinstant nggak jalan optimal di internet di Indonesia. Intinya, website itu seperti Google Instant, jadi video yang ditunjukkin bakal berubah as we type.

Humanities and Critical Thinking

Beberapa bulan lalu, di blog ini saya sempat  bicara tentang kurangnya mandatory reading dalam pendidikan Indonesia:

It occurred to me that Indonesian school system has been terribly undervaluing the benefits of assigned reading. It’s rare in the first place. When we did have a reading, tasks will be on language (synopsis, etc) , largely ignoring the topics and contents it brought forward. Books are perceived merely as a matter of language and not as a provoker of new ideas and thoughts. Somehow we are educated to read for the sake of the story itself, and not for the meaning behind it.

dan setelah tiga bulan terakhir ini, saya jadi merasa bahwa masalahnya bukan mandatory reading itu sendiri, tapi tiadanya fokus pendidikan critical thinking di kehidupan sehari-hari. Dalam pendidikan di US, ini dicapai oleh pelajaran humanities, seperti dengan sangat jelas dituturkan video ini (berjudul “In Defense of Humanities”, oleh profesor di Stanford). Kelas-kelas humanities mendorong kita bertanya dan mendiskusikan life questions, mendorong kita untuk berpikir tentang hal-hal yang biasanya kita take for granted. Semua mahasiswa tingkat 1 di Stanford wajib mengambil 3 quarter Introduction to Humanities. Quarter kemarin, kelas humanities saya mengajak murid untuk membayangkan bagaimana teknologi bisa membentuk masa depan yang utopian atau dystopian. 2 quarter ke depan, kita bakal menelaah ajaran berbagai macam agama.

Sistem discussion section buat saya sangat bisa (tapi saya belum lihat) diterapkan di sekolah menengah Indonesia. Dua kali seminggu, selama sejam, sekitar 15 orang murid duduk di sekeliling meja kotak besar bersama seorang guru, dan kita berdiskusi atau berdebat tentang topik pelajaran itu. Guru benar2 jadi fasilitator dan berlaku seperti salah satu peserta diskusi juga. Selama ini yang saya pernah rasakan adalah diskusi kelompok 3-4 orang, lalu mempresentasikan di depan kelas dan orang bisa bertanya. Saya agak kurang suka dengan sistem ini, karena tendensi orang adalah menjatuhkan argumen mereka yang berpresentasi. Sementara dalam diskusi atau bahkan debat semeja, semua orang sadar kalau kita membangun argumen secara konstruktif.

Kesimpulannya, banyak aspek pendidikan Barat yang bisa kita pelajari dan terapkan di Indonesia – keterbukaan terhadap individualitas dan diversitas, tugas-tugas yang praktikal, dorongan untuk menemukan dan memulai hal baru, pemikiran kritikal dalam kehidupan sehari-hari, dan kepercayaan terhadap murid.

Let me know what you think! Feel free to share your experiences too :)

Tagged with:
 

35 Responses to Merefleksikan Pendidikan

  1. Pendidikan agama di Indonesia udah bagus kok, dengan toleransi beragama yang terus terjaga dan gak ada ribut sama sekali, gak ada organisasi ekstrimis agama *uhuk*. Anyway, pendidikan agama di sekolah aja sampai ada yang cenderung mendiskreditkan agama lain, dan agama sendiri dianggap benar. Sungguh toleran.

    Kalo soal kepercayaan, gua rasa si karena emang udah mahasiswa, jadi harusnya udah bisa punya tanggung jawab dan bisa diberi kepercayaan. Kalo di univ di indo gak tau deh, absen aja masih pada nitip.

    critical thinking di Indonesia masih susah ya, mungkin memang ada beberapa guru yang terbuka, tetapi masih sebagian besar guru di Indonesia bersifat kolot dan cenderung tidak mau menerima pendapat orang lain. Mungkin mereka belum sadar posisi mereka bukan sebagai sumber utama dan jalan segala kebenaran lagi, tetapi hanya sebagai fasilitator. *lirik guru k**** uhuk*

  2. ktheimperfect says:

    What a great post! Like it.

    Mungkin nggak cuma di Indonesia aja yang butuh adaptasi, terutama dalam hal kepercayaan. In my university kita masih mengenal yang namanya invigilators. Kedua cara yang kontradiktif ini sebenarnya bagus sih; keduanya menekankan pentingnya integritas, hanya saja pendekatannya beda: yang satu positif yang satu cenderung negatif.

    Mengenai humanities dan interdisciplinary studies, kalau gw rasa kebanyakan student belum menyadari pentingnya (to be honest that includes me). Berdasarkan pengamatan gw kebanyakan orang hanya berfokus pada job skills dan bukan life skills. Komunikasi di sini juga belum sepenuhnya disadari manfaatnya; diskusi kebanyakan agak kering walaupun gw sadari di SMA banyak percobaan diskusi yang jauh lebih kering :p. In conclusion uni gw sudah mulai mencontoh sistem pendidikan Barat tapi nilai Timus masih mendominasi disini.

  3. Gue membaca in secara detail dan sangat terimpresi, Ven. Sudah banyak wacana mengenai ‘School Kills Creativity’, dimana para siswa dituntut untuk melakukan segala sesuatu yang mereka nggak suka dan nggak mahir. Menurut gue, sekolah harus bisa mencari kelebihan dari setiap siswanya, bukan memaksakan mereka untuk menelan seluruh pelajaran yang mereka nggak suka; dengan begitu, kemampuan mereka bisa meningkat secara eksponensial.

  4. Affan says:

    Masalah di Indonesia itu orang nggak diajarin apa perlunya kita sekolah.

    Hayo saya tantang anak2 ITB ini utk jawab pertanyaan saya “Saya masuk bangku kuliah karena apa?” Kalau jawabannya karena:

    - disuruh ortu saya
    - biar gampang dapet kerja kalo lulus
    - katanya ITB tempatnya orang pinter semua, saya mau buktikan saya orang pinter, saya kan alumni olimpiade matematik/fisika/dsb

    ya jelas aja pendidikannya jadinya seperti itu. Itu bukan cuma mahasiswa nya yang salah, tapi orang tua serta pendidikan sebelumnya lah yang buat dia jadi seperti itu. Kalau seperti itu, ya terang aja ujian penuh kecurangan agar dapet nilai gede, membohongi absensi, bikin tugas nyontek sana sini, dan sebagainya.

    Kalau niatnya masuk ITB karena pengen jadi orang berguna dengan ilmu yang saya miliki, barulah ia belajar apa filosofi keilmuan yang dia pelajari, mengapa begini, mengapa begitu. Walaupun dia dapet IP dua koma sekian, lulus lewat waktu, tapi dia tahu filosofi ilmu nya, dia dapet “why” nya saya sekolah.

    Itupun dapet “why” nya kalau dibimbing ama dosen-dosen yang bagus. Kalau dosennya cuma suka-suka ngajar aja, bukan dosen yang menjiwai keilmuannya, bukan dosen yang berpengalaman, ya jadinya nggak akan dapet.

    Diperparah lagi dengan pengelolaan pendidikan tinggi saat ini, yang maunya cuma mengumpulkan duit sebesar-besarnya dari mahasiswa nya, tanpa menetapkan mekanisme screening yang keras seperti dulu. Kalau lingkungannya isinya anak2 yang lembek semua, jadilah lingkungan pendidikannya berisi anak2 yang saya yakin jadi golongan yang saya sebutkan diatas tadi.

    Belum lagi universitas nya hanya bertugas sebagai “sekolahan” saja, nggak kondusif untuk inovasi bisnis. Sulit menjalin kerjasama dgn dunia bisnis karena terhalang dgn birokrasi internal. Kalaupun staf nya sudah terbuka dgn perubahan, manajemennya masih kolot. Jauh lah kalau dibandingkan dgn Stanford yang jadi tempatnya technopreneur di West Coast dgn Silicon Valley.

    Semoga sukses deh di Stanford, mudah-mudahan kalau kembali ke tanah air bisa membawa perubahan untuk negara.

  5. [...] This post was mentioned on Twitter by Muhammad Ghazali and indo.com.prog, Petra Novandi. Petra Novandi said: nice post by @angelinavj mengenai persepsi tentang pendidikan Indonesia setelah kuliah di Stanford http://bit.ly/hT3Kib [...]

  6. Nice share :)

    Just drop by & have a quick skimming over your writings :D

    Thanks untuk info nya tentang Stanford, keren sekali ternyata :D Saya juga suka (terutama) dengan poin-poin ini :

    Bila ada aspek2 di mana ajaran mereka berlawanan, telaahlah tentang semuanya. Jangan take side tentang mana yang benar. Pelajarpun akan tumbuh menjadi orang-orang yang dunianya tidak berpusat pada kepercayaannya sendiri, tapi peduli dan punya deeper understanding tentang kepercayaan lain. Pelajaran bukan mestinya berarah pada membuat murid beriman, tapi memberikan pengetahuan dan latar belakang untuk mendorong murid menemukan imannya sendiri

    Ini seharusnya diterapkan di sekolah negeri untuk mempertegas Bhinneka Tunggal Ika. Untuk sekolah swasta yang berbasiskan nilai agama tertentu tidak perlu.

    It occurred to me that Indonesian school system has been terribly undervaluing the benefits of assigned reading. It’s rare in the first place. When we did have a reading, tasks will be on language (synopsis, etc) , largely ignoring the topics and contents it brought forward. Books are perceived merely as a matter of language and not as a provoker of new ideas and thoughts. Somehow we are educated to read for the sake of the story itself, and not for the meaning behind it.

    Agree. I feel like blaming my school for making me non-enthusiastic reader :p Sekaligus jadi makin merasa perlu untuk makin memotivasi diri untuk membaca buku (terutama yang tebal-tebal itu :D ) dan mendorong generasi di bawah untuk membaca :)

  7. Angelina Veni says:

    @ivan : di US belum pernah denger ada universitas yang pake absensi murid untuk lecture. satu-satunya kelas yang absensi diperhitungkan adalah diskusi kelas humanities, karena mengeluarkan pendapat ke forum termasuk salah satu yang diperhitungkan dalam penilaian.

    @kt : tentang paragraf kedua, di sini benar2 ditekankan buat belajar karena ‘suka’, bukan karena ‘karir di depan’. tentang interdisciplinary study: misalnya saya programmer, tapi saya tertarik sama psikologi manusia, kenapa saya harus melewati pendidikan yang sama seperti programmer yang tertarik sama musik? Bukankah lebih baik kalo saya menjalani kurikulum yang tailored sesuai interest saya, dan kemudian bisa bekerja, misalnya, dalam mendesign software yang user interfacenya didesign memperhitungkan psikologi manusia? Studi2 ini bikin orang punya ‘niche’nya sendiri dan punya distinction dibandingkan orang lain.

    @guinandra : can’t agree more! tugas akhir kelas humanities saya kemaren bikin bener2 nyadar tentang hal ini: ngedorong siswa untuk do what they like walau tetap dalam konteks pelajaran.

    @affan :
    great and extensive comment, thanks for stopping by!

    tentang poin kedua, saya datang ke Stanford tanpa interest sama sekali di startup life, dan know for certain kalo saya bakal kerja di perusahaan tech mapan. Tapi tiga bulan merubah banyak cara pandang saya. Jadi pendidikan sangat bisa menginspire murid yang ‘salah kaprah’ begitu – tentu aja, dengan willingness dan open-mindedness yang cukup dari pihak muridnya juga. dan can’t agree more tentang dosen.

    sistem student curatorship di Indonesia emang sangat flawed – murid direduksi jadi nomor dan angka di SNMPTN atau tes-tes lainnya. Di sini penerimaan lihat banyak aspek : nilai tes, nilai sekolah, rekomendasi, aktivitas, prestasi, dan essay. Mereka benar2 curator orang-orang yang berbeda dari banyak background… Kalau Stanford pake sistem curatorship di Indonesia, (mungkin) semua muridnya bakal chinese people dengan SAT 2400 dan valedictorian di sekolah, dan the whole system ga bakal bekerja.

    Stanford built Silicon Valley. Universitas seharusnya mencapai tahap ‘membangun’ industri, bukan hanya berhenti di ‘bekerjasama’ dengan industri. Tapi bekerja sama udah a big step forward untuk universitas di Indonesia.

    @Yohanes : yup, saya baru sadar kalau setelah 18 tahun, saya belum pernah ‘berpikir’ mengenai buku Indonesia. dan menurut saya sekolah swasta dengan ajaran agama tertentu juga sangat perlu memasukkan ajaran agama lain dalam kurikulumnya, meski tidak dalam proporsi yang setara. Rasanya nggak pas untuk mengajarkan toleransi beragama kalau kita nggak tahu apa yang ditoleransikan…

  8. wira gotama says:

    w0w info yang bagus, i like this post.

    Perihal Agama : di indo mungkin memang di tiap sekolah diajarin agama dan “toleransi”, tapi yang lebih dibutuhin mungkin pengajaran moral-praktek langsung, karena sering kali di skul cuman diajaran “teori” doank, apalah itu toleransi misalnya, dan tetek bengek segala macem teorinya, tapi prakteknya gmn-apakah pengajarannya sebaik mengajarkan teori?

    Sistem discussion section buat saya sangat bisa (tapi saya belum lihat) diterapkan di sekolah menengah Indonesia. Dua kali seminggu, selama sejam, sekitar 15 orang murid duduk di sekeliling meja kotak besar bersama seorang guru, dan kita berdiskusi atau berdebat tentang topik pelajaran itu. Guru benar2 jadi fasilitator dan berlaku seperti salah satu peserta diskusi juga. Selama ini yang saya pernah rasakan adalah diskusi kelompok 3-4 orang, lalu mempresentasikan di depan kelas dan orang bisa bertanya. Saya agak kurang suka dengan sistem ini, karena tendensi orang adalah menjatuhkan argumen mereka yang berpresentasi. Sementara dalam diskusi atau bahkan debat semeja, semua orang sadar kalau kita membangun argumen secara konstruktif.

    memang di indo masa SMA yang kita alami mungkin seperti itu, jadi pada presentasi 3-4 kelompok orang bukan terjadi saling menjatuhkan aja, tapi waktu presentasi saling menampilkan “kelompok gue lah yang paling wah”, jadinya waktu sesi tanya jawab saling gak mau ngalah, malah ribut.

    This post give so much information, thanks cc hehehe

  9. arlene says:

    We will forget half, if not all, the things we learnt in college classes. Technoiogy becomes obsolete. Books become obscure. What college does is it teaches you how to think, I am, for instance, completely ignorant of computer science, but I’ve been taking jobs in the tech industry. Why? Because I’ve learnt the values of an open mind and a lifelong sense of curiosity.

    No matter where they study, I see that my friends who are more curious about the world and who keep an open mind are always the ones who are most intelligent and engaging, sometimes more than people I meet in Berkeley or Stanford. I think it comes back then, too, to family life and the many zillion other factors that motivate a child to think outside the box. (I hate this overused phrase, but nothing describes it more succinctly). By the time we hit college, it is much too late to plant the seeds for this kind of forward thinking. However, I also believe that a great college education, as you explained in your blog, does play a role in how far a person’s mind is going to go, given that it’s already outside of the box.

    It’s 3am here and running into your blog made my pre-bed, facebook session worth it :)

  10. Terima kasih. Tulisannya menginspirasi!

  11. aris says:

    izin share ya mbak. mudah-mudahan menginspirasi orang banyak

  12. [...] This post was mentioned on Twitter by Lawrence Samantha, Rahmiati Razif. Rahmiati Razif said: Tulisan menarik dari pengamat pendidikan Indo yg sdg kuliah di Stanford Uni. Worth your 6mins: http://bit.ly/gpGNf6 [...]

  13. Febri says:

    Tulisan yang menggelitik, Mba’ Ven yang sedang berjibaku di Stanford, semoga sukses.

    Saya ingin mencermati tentang masalah keterbukaan diskusi sekaligus tentang moral bukan agama. Dalam pandangan “saya” yang juga masih terbuka. Keberpihakan kita pada apa yang kita yakini benar adalah sebuah keniscayaan namun keterbukaan atas peluang bahwa apa yang kita yakini benar ternyata menjadi salah setelah menjalani diskusi, argumentasi secara fair dan terbuka dengan pihak yang berlawanan adalah sebuah kewajiban. Namun bersikap tidak sama sekali memihak justru akan membuat keberpihakan pada sesuatu yang baru yang lebih kompleks dan justru akan menambah khazanah keberpihakan pada kebenaran dan akan membuka peluang konflik baru.

    Contoh sederhana, para alumni amerika atau eropa dala studi islam umumnya datang ke Indonesia membawa pemikiran yang kita sebut “tidak berpihak” itu tadi, mencoba terbuka atas semua agama dan cenderung diakhiri dengan sikap tak tegas yang kita sebut membenarkan semua agama. Pada akhirnya justru mereka sendiri yang membuat sebuah pihak baru yang dianggap oleh pihak islam sendiri tidak sesuai dengan keberpihakan mereka. Dan ini justru menimbulkan konflik baru yang menambah masalah dalam istilah toleransi. Dari kejadian yang saya cermati di indonesia ini, pihak baru yang menyatakan diri tidak berpihak tersebut justru membangun konflik baru yang akhrinya menggerus nilai-nilai toleransi yang sudah lebih lama di bangun di Indonesia.

    Atas dasar pengalaman dan pengamatan itu saya lebih memandang keberpihakan pada suatu pihak tetap lah penting, artinya jika anda kristen maka yakinilah kebenaran kristen dan pelajarilah secara mendalam sehingga anda yakin dan mampu berargumentasi untuk menyatakan bahwa keyakinan anda benar. Namun Anda harus selalu terbuka dalam setiap ruang diskusi tentang kritik terhadap kekristenan, dan siap untuk menggantinya jika memang dari dasar argumentasi yang kuat dapat ditunjukkan bahwa keyakinan anda itu salah.

    Mengenai sikap keseharian dan gaya melecehkan yang dapat kita lihat diantara umat beragama sebetulnya lebih didasari atas sikap takut, khawatir bahwa rekan-rekannya yang satu pihak mulai berkurang dan beralih dari satu pihak ke pihak yang lain. Padahal kita tidak perlu khawatir atas kebenaran yang diyakini orang lain, kita hanya perlu mengkhawatirkan keyakinan diri kita sendiri apakah sudah sesuai dengan nilai-nilai kebenaran yang kita rasakan atau tidak. Ditambah lagi dengan sikap-sikap tidak elegan dan sedikit arogan dengan keyakinannya sendiri sehingga sering menghina dan melecehkan pihak lain adalah sebuah bentuk ketidaksadaran dan ketidakpahaman yang kuat akan keyakinannya sendiri.

  14. 3clair says:

    Halo.. salam kenal..

    Tulisannya bagus dan sangat inspiratif.. dan juga sangat lengkap. Jadi bingung mau menambahkan komentar apa.

    Saya sangat setuju bahwa pendidikan Indonesia sangat tertinggal dan rusak. Sementara pendidikan di luar negeri berlomba-lomba dalam penekanan pentingnya berpikir kritis, pemerintah Indonesia masih berkutat, dengan keras kepalanya, dengan UN sebagai standar kelulusan. Selain itu sebagian besar rakyat Indonesia pun masih bermasalah dengan prasangka bahwa ilmu yang terpenting adalah sains dan serta merta memandang remeh ilmu lainnya. Saya rasa pelajaran tentang nasionalisme sepanjang 12 tahun SD, SMP, dan SMA bisa diringkas dengan membaca tetralogi Buru-nya Pramoedya, setidaknya rasa nasionalisme saya terbakar dengan membaca novel-novel Pramoedya. Yah, tapi apa boleh buat selama orde baru novel-novel itu dilarang terbit dan beredar.

    Saya lagi-lagi sangat setuju dengan pendapat Veni bahwa di Indonesia kita hanya ditekankan untuk bisa dan mengerti kulit luarnya saja, tanpa memahami lebih mendalam tentang apa yang kita pelajari. Beberapa saat yang lalu saya berkesempatan membuka-buka buku Fisika lama saya karena sesuatu hal. Terus terang, minat saya kembali timbul untuk mempelajari teori relativitas Einstein setelah tahu efek apa saja yang timbul dari teori tersebut. Rasanya saat saya belajar di kelas 3 SMA, tidak diperkenalkan mengenai hal-hal menarik seperti ini.

    Saya rasa sulit untuk mengubah semua hal ini dengan cepat. Guru-guru dituntut untuk lebih kreatif dalam mengajar sedangkan kehidupan mereka sehari-hari sudah sedemikian beratnya. Pemerintah lebih sibuk bermain-main politik yang konon demi “rakyat.” Orang tua masih banyak yang memiliki pakem bahwa hasil lebih penting dari proses. Kemudian saat ini saya lihat banyak anak-anak kecil Indonesia yang sangat hebat berbahasa asing tapi terbata-bata berbahasa Indonesia. Saya semakin tercengang-cengang dengan kejutan ini karena tampaknya pendidikan Indonesia semakin tidak jelas arah tujuannya.

    Sekaligus mengomentari komentar Affan.. Dibanding menunggu Veni pulang dan berkarya, dibanding menunggu pemerintah bereaksi dengan akal sehat, dibanding terus menerus menunggu.. ayo kita semua mulai dari diri sendiri memperbaiki semua hal ini.

    Akhir kata.. Sukses untuk kuliahnya di Stanford!!

  15. Ernestasia says:

    Thanks for sharing this.

    Saya setuju banget soal pendidikan kita yang cenderung mengarahkan dan menentukan penilaian dan pikiran anak didiknya. Anak didik tidak dilatih untuk kritis dan mengambil keputusan sendiri secara bijaksana. Contoh saja, dalam pemilihan jurusan sekolah, baik SMA atau kuliah. Masih ada stereotip yang diikuti oleh anak-anak didik bahwa jurusan tertentu lebih baik, orang-orangnya akan lebih sukses, dsb.

    Selain itu, saya juga sangat setuju mengenai kurangnya pendidikan moral dan kurang open-mindednya pendidikan agama di Indonesia. Cukup dengan melihat bagaimana orang bisa begitu sensitifnya membahas soal agama di Indonesia ini sudah menunjukkan betapa orang-orang Indonesia boleh dibilang men-tuhan-kan agama masing-masing, agama lain cenderung dipandang sebelah mata.

    Kebetulan saya juga mantan mahasiswi informatika dan sekarang pun bekerja di bidang pendidikan. This post really gives inspiration, juga terkait hal-hal pembelajaran di bidang informatika.

    Thanks for sharing ya! Sukses kuliahnya. :)

  16. admin says:

    @Arlene : great point that I should emphasize more… Universities do not make or break students, they can only help. Stanford has been everything one wishes a university could be, but of course it doesn’t make its students necessarily better than non-Stanfords.

    @Febri : interesting point. Sebagai individual, dengan memeluk agama kita secara langsung berpihak atau meyakini terhadap suatu agama. Tapi keberpihakan ini individual dan bukan pukul rata seperti yang dicapai sebuah sistem pendidikan yang religiocentric. Pendidikan seharusnya bertindak sebagai dasar, yang netral terhadap setiap sudut pandang.

    @all : thanks commentsnya! :)

  17. Mufid says:

    Wow nice post! Benar-benar menggugah pikiran (Saya belum pernah ke LN, setidaknya post ini memberikan gambaran kepada Saya bagaimana belajar di sana)

    Saya pikir di Indonesia memang guru-guru masih nilai-oriented. Setuju dengan semua komentar di atas, sejatinya guru-guru harus bisa memberikan the joy of edu kepada siswanya sehingga tertarik untuk belajar lebih dalam. Jika ini tidak diberikan, maka banyak siswa yang tidak tertarik untuk belajar lebih dalam. Alhasil karena nilai oriented, dia hanya akan berusaha mendapatkan nilai-nilai yang mengagumkan.

    Lebih masalah lagi kalau ada siswa yang nilai oriented juga. Dia hanya belajar, tujuannya nilai bagus, tanpa tahu nilai praktikal dari ilmu tersebut. Saya katakan “lebih masalah”, karena berarti siswa sudah diajarkan jalan yang salah dan dia menerima jalan yang salah tersebut.

    Tetapi saya rasa, dalam waktu 10 tahun ke depan, Indonesia bisa bangkit. Sudah banyak sisi yang mulai diperbaiki. Mungkin terlalu telat, tetapi kita lihat saja, semoga ada kebaikan yang tumbuh untuk pendidikan kita ini ^^

    cmiiw

  18. Well, dengan banyak2nya orang-orang yang berpikiran terbuka di sini.
    Dunia sekitar kita pasti jadi lebih baik lagi.

    Terus sebarkan.
    Buka Pikiran.

  19. nocual says:

    disana ospeknya seperti apa?

    Request :
    bikin post tentang ospek disana. :)

  20. Arman says:

    Dengan semangat yang sama, mungkin bukan Indonesia harus ‘meniru’ US, tapi tetap belajar, mengambil yang baik, memperbaiki yang rusak, mempertahankan yang sudah baik, menggarap bidang yang mungkin tidak bisa digarap US, helloo.. Apa kabar sumber daya alam yang pernah kita banggakan di dunia.. Sekarang kok malah latah ngikuti tren negara2 industri aja.. Please, we gonna do something about our natural resources.. :)

  21. zakie says:

    pemikiran yg keren…Ni

  22. fave post g ni…kudu banyak belajar dari anda #salute!

  23. Fajar Hari Prabowo says:

    Semoga mbak Veni setelah lulus dari Standford, bisa nyebarin “Ilmu dan Pengalamannya” di dunia pendidikan Indonesia. Supaya Mahasiswa sini pemikiranya terbuka, aktif menciptakan lapangan kerja.

    Negara ini butuh banyak orang-orang sepemikiran dengan mbak Veni untuk membangun Silicon Valley-nya Indonesia. Saya yakin Indonesia pasti bisa. Seperti pak Sehat Sutarja (sang pendiri Marvell), cuman sayang, perusahaannya ada di US, bukan disini. :)

  24. dika46 says:

    Hi..! ~~

    Tulisan ini sangat open minded. Bila diizinkan, saya share ya.
    Tentu link back ke post ini.

    Terima kasih

  25. [...] sini, Stanford dan Silicon Valley turn out to be what I expected, and more. Kalau 6 bulan lalu saya menulis tentang Stanford, sekarang saya pengen share tentang Silicon Valley, lingkungan yang nggak terpisahkan dari the [...]

  26. Quora says:

    What can Indonesian higher education system learn from other countries’?…

    I wrote a long blogpost [1] on this topic a while back; I’m going to translate, summarize and update that post in this answer. Morality, not religion Last year, I attended His Holiness Dalai Lama’s speech at Stanford, where he talked about compassion…

  27. ziaul says:

    i like “dont judge”

  28. [...] sini, Stanford dan Silicon Valley turn out to be what I expected, and more. Kalau 6 bulan lalu saya menulis tentang Stanford, sekarang saya pengen share tentang Silicon Valley, lingkungan yang nggak terpisahkan dari the [...]

Leave a Reply to Yohanes Gultom Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Set your Twitter account name in your settings to use the TwitterBar Section.